Potret Resah Perkara Rasis di Mata Tompi

Author : Administrator | Rabu, 02 November 2016 | - Fotografi

Mohammad Safir Makki

Salah satu foto dalam pameran Chinese Ink karya Tompi yang dipamerkan di Galeri Oktagon Jakarta. (Foto/Courtesy:Tompi)

 

Jakarta, CNN Indonesia -- Persoalan rasisme, yakni keyakinan bahwa suatu ras tertentu jauh lebih baik dari ras lainnya, makin mencuat dalam beberapa waktu terakhir, terutama terhadap etnis Tionghoa. Tidak hanya dalam perbincangan sehari-hari, tapi juga di media sosial hingga menyinggung pemilihan gubernur DKI Jakarta. 

Isu ini juga mengusik Teuku Adifitirian atau yang lebih dikenal dengan Tompi. Dokter yang juga penyanyi itu mengatakan isu rasisme makin mengkhawatirkan karena dapat berdampak buruk di masa yang akan datang. Apalagi, kata dia, masih banyak masyarakat yang tidak menelaah informasi lebih jauh sehingga menerima begitu saja apa yang disampaikan orang lain. 

Tompi lalu menuangkan keresahannya lewat pameran fotografi yang ia beri tajuk Chinese Ink. 

Sesuai judulnya, pria kelahiran Aceh, 38 tahun lalu itu menghadirkan 40 foto yang mengkritisi isu rasisme dan bagaimana menyikapinya. Pameran ini berlangsung di Galeri Oktagon Jakarta, dari 2 hingga 8 November 2016. 

Salah satu foto dalam pameran Chinese Ink karya Tompi yang dipamerkan di Galeri Oktagon Jakarta. (Foto/Courtesy:Tompi)Foto yang dihadirkan Tompi hampir keseluruhannya hitam putih. Modelnya beragam, tidak hanya dari etnis Tionghoa, seperti kehadiran Jerry Aurum dan Olga Lydia, tapi juga sejumlah model berwajah ‘pribumi’ sebagai pembanding. 

Dari beberapa foto tampak, ia juga memanfaatkan tumpahan tinta pada wajah model. Kombinasi hitam putih dan penggunaan tinta menjadi medium bagi Tompi untuk menyampaikan pesannya; bahwa bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap rasis, hanya dengan membeda-bedakan orang dari warna kulit.

Dalam proses pemotretan, kata Tompi, ia melakukan pendekatan khusus dengan para model. Caranya, ia memberi narasi, lalu model-lah yang akan menyampaikan emosi dengan cara sealamiah mungkin. Tompi lalu memotretnya seolah mereka tak merasa sedang dipotret.

“Usai mengatur suasana studio, dari mulai pencahayaan, format foto, dan kamera, selanjutnya saya biarkan proses pemotretan mengalir untuk merekam karakter dan emosi subyek yang difoto,” ujarnya. 

Keseluruhan foto yang dipamerkan, kata Tompi, diambil dengan kamera analog format besar. Ia juga mesti melalui proses cukup lama dengan mencuci film hingga cetak foto di studio kamar gelap yang ia miliki. 

Proses dari memotret hingga mencetak foto ini, disampaikannya, memberi kepuasan tersendiri. Terutama di saat kamera digital menjadi tren. 

Tompi menuturkan, hasil bidikannya yang dipamerkan kali ini bertujuan untuk menjadi pengingat dan menyadarkan publik, bahwa pada hakikatnya manusia tak berhak menjadi ‘juri’ atau menilai dirinya lebih baik dari orang/ras lain. 

Jakarta, CNN Indonesia -- Persoalan rasisme, yakni keyakinan bahwa suatu ras tertentu jauh lebih baik dari ras lainnya, makin mencuat dalam beberapa waktu terakhir, terutama terhadap etnis Tionghoa. Tidak hanya dalam perbincangan sehari-hari, tapi juga di media sosial hingga menyinggung pemilihan gubernur DKI Jakarta. 

Isu ini juga mengusik Teuku Adifitirian atau yang lebih dikenal dengan Tompi. Dokter yang juga penyanyi itu mengatakan isu rasisme makin mengkhawatirkan karena dapat berdampak buruk di masa yang akan datang. Apalagi, kata dia, masih banyak masyarakat yang tidak menelaah informasi lebih jauh sehingga menerima begitu saja apa yang disampaikan orang lain. 

Tompi lalu menuangkan keresahannya lewat pameran fotografi yang ia beri tajuk Chinese Ink. 

Sesuai judulnya, pria kelahiran Aceh, 38 tahun lalu itu menghadirkan 40 foto yang mengkritisi isu rasisme dan bagaimana menyikapinya. Pameran ini berlangsung di Galeri Oktagon Jakarta, dari 2 hingga 8 November 2016. 

Foto yang dihadirkan Tompi hampir keseluruhannya hitam putih. Modelnya beragam, tidak hanya dari etnis Tionghoa, seperti kehadiran Jerry Aurum dan Olga Lydia, tapi juga sejumlah model berwajah ‘pribumi’ sebagai pembanding. 

Dari beberapa foto tampak, ia juga memanfaatkan tumpahan tinta pada wajah model. Kombinasi hitam putih dan penggunaan tinta menjadi medium bagi Tompi untuk menyampaikan pesannya; bahwa bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap rasis, hanya dengan membeda-bedakan orang dari warna kulit.

Dalam proses pemotretan, kata Tompi, ia melakukan pendekatan khusus dengan para model. Caranya, ia memberi narasi, lalu model-lah yang akan menyampaikan emosi dengan cara sealamiah mungkin. Tompi lalu memotretnya seolah mereka tak merasa sedang dipotret.

“Usai mengatur suasana studio, dari mulai pencahayaan, format foto, dan kamera, selanjutnya saya biarkan proses pemotretan mengalir untuk merekam karakter dan emosi subyek yang difoto,” ujarnya. 

Keseluruhan foto yang dipamerkan, kata Tompi, diambil dengan kamera analog format besar. Ia juga mesti melalui proses cukup lama dengan mencuci film hingga cetak foto di studio kamar gelap yang ia miliki. 

Proses dari memotret hingga mencetak foto ini, disampaikannya, memberi kepuasan tersendiri. Terutama di saat kamera digital menjadi tren. 

Tompi menuturkan, hasil bidikannya yang dipamerkan kali ini bertujuan untuk menjadi pengingat dan menyadarkan publik, bahwa pada hakikatnya manusia tak berhak menjadi ‘juri’ atau menilai dirinya lebih baik dari orang/ras lain.
 

Sumber: http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20161102122916-241-169625/potret-resah-perkara-rasis-di-mata-tompi/
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared: