Stadium General FKIP UMM Dorong Guru Miliki Jiwa Nasionalisme Tinggi

Author : Humas | Jum'at, 16 Juli 2021 09:44 WIB
Para peserta yang hadir dalam agenda stadium general. (Foto: Istimewa)
Demi menyiapkan lulusan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi, Universitas Muhammadiyah malang (UMM) selenggarakan Stadium General Wawasan Kebangsaan. Sebanyak 960 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prodi PPG Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) turut hadir dalam agenda yang dilaksanakan pada Minggu (4/7) lalu. Adapun stadium general dilangsungkan secara daring mengingat pandemi yang masih belum usai.
 
Mengawali dengan sambutan,Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin mengatakan bahwa aktivitas ini sangat penting mengingat guru mengemban peranan vital dalam konteks nasionalisme di era globalisasi. "Saat ini, kita berada dalam era globalisasi 3.0 yang dipercepat dengan adanya revolusi industri 4.0. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita. Maka, di sinilah guru memerankan peranannya dalam konteks nasionalisme di era globalisasi," terang Syamsul.
 
Syamsul, panggilan akrabnya juga mengapresiasi komitmen Prodi PPG FKIP dalam meningkatkan kapasitas para mahasiswa yang notabenenya adalah seorang guru. "Apresiasi saya berikan kepada Prodi PPG yang terus berusaha membina para peserta PPG untuk menjadi guru profesional demi kemaslahatan bangsa dan negara," tutupnya.
 
Adapun kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yakni, Brigjen TNI Elman Nawendro, Dr. Poncojari Wahyono, dan Dr. Trisakti Handayani. Dalam paparannya, Elman Nawendro mengatakan bahwa belakangan wawasan kebangsaan memiliki indikasi untuk menurun. Ditandai dengan melemahnya pemahaman, penghayatan, dan pengalaman terhadap nilai-nilai budaya dan Pancasila. Untuk mengatasi hal tersebut, Elman mengatakan bahwa penanaman konsep wawasan terkait rasa, semangat, dan paham kebangsaan melalui pendidikan harus dilakukan. 
 
"Pendidikan formal, informal, maupun nonformal yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan pendidikan merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan pemahaman atas nilai-nilai empat konsensus nasional," terang Komandan Pusdik Arhanud ini.
 
Elman juga sempat berpesan agar seluruh komponen masyarakat dapat bahu-membahu dalam memupuk rasa nasionalisme yang dimiliki. "Seluruh komponen bangsa harus berperan aktif dan bekerja sama dengan cara yang sesuai dengan budaya bangsa dalam mewujudkan nasionalisme. Tentu saja dengan lebih mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan individu, kelompok, golongan, atau suku bangsa," pungkasnya.
 
Di sisi lain, Poncojari Wahyono secara spesifik menyoroti tentang internalisasi nilai wawasan kebangsaan dalam pendidikan di wilayah perbatasan. Dikatakan Ponco, kualitas SDM Indonesia terbilang rendah bila dibandingkan negara tetangga, khususnya di wilayah perbatasan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan internalisasi nilai wawasan kebangsaan di sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. Ia pun mengajukan empat desain internalisasi nilai wawasan kebangsaan.
 
"Upaya-upaya internalisasi nilai agama dan kebangsaan bisa dilakukan dengan langkah-langkah revitalisasi pendidikan dasar dan menengah, melakukan pengelolaan guru yang profesional, revitalisasi kurikulum dan ujian nasional. Disamping itu juga melakukan internalisasi nilai wawasan kebangsaan kepada seluruh masyarakat melalui pelatihan," jelas Dekan FKIP UMM ini.
 
Tak kalah menarik, pemateri terakhir mengangkat topik "Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia dan Peran Guru Profesional dalam Mewujudkan Generasi Berkarakter". Sejalan dengan tema yang diangkat, Trisakti mengupas ideologi Pancasila dengan apik. Menurutnya, nilai-nilai karakter Pancasila berakar dari filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewanatara yang sudah dielaborasi.
 
"Namun, kristalisasi nilai-nilai Pancasila ini pada dasarnya mencakup lima nilai utama yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas," jelas Kaprodi PPG ini.
 
Masih menurut Trisakti, ada empat strategi pengembangan karakter Pancasila. Keempat strategi itu meliputi penerapan dalam kurikuler dan kokurikuler. Begitupun dengan penerapan dalam kegiatan ekstrakurikuler serta di bidang non-kurikuler. (*/wil)
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image