Kisah Ardianeswari Putri, Lulusan Cumlaude Mengejar Mimpi hingga ke Jepang Berkat Vokasi UMM

Author : Humas | Senin, 31 Juli 2023 08:49 WIB | Tugu Malang - Tugu Malang

vokasi UMM

Ardianeswari Putri Salifani, alumni Vokasi UMM yang kini berhasil mengejar mimpi bekerja di dunia kesehatan di Jepang. Foto: Dok. Pribadi

MALANG, Tugumalang.id – Menyandang titel cumlaude, bukan berarti jadi jaminan seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. Pengalaman itu dirasakan sendiri oleh Ardianeswari Putri Salifani. Cewek asal Lamongan, Jawa Timur ini meraih predikat cumlaude sebagai lulusan terbaik kedua dari Jurusan S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2021.

Kegalauan itu dalam sekejap berubah jadi harapan berkat berjodoh dengan Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kini, dia berhasil mewujudkan cita-citanya bekerja di dunia kesehatan, di Jepang pula. Dengan gaji yang terbilang fantastis, mencapai Rp 16 juta per bulan.

Meski begitu, kisah manis itu diraihnya tak semudah membalikkan tangan. Ratusan surat lamaran pun sudah mendarat di berbagai rumah sakit dan klinik fisioterapi, namun tak mendapat hasil.

Ardianeswari Putri Salifani, alumni Vokasi UMM yang kini berhasil mengejar mimpi bekerja di dunia kesehatan di Jepang. Foto: Dok. Pribadi

Sebenarnya, Dina sapaan akrabnya, bisa melakukan pelayanan kesehatan sendiri. Hanya saja, kendala biaya membuatnya tak bisa menempuh pendidikan profesi. Selain itu, dia juga belum memiliki STR atau surat izin melakukan pelayanan kesehatan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Dina terpaksa menunda cita-citanya bekerja di kesehatan. Dina kemudian bekerja menjadi admin di salah satu pabrik karton di Bekasi selama 3 bulan. Usai kontrak kerja habis, Dina memutuskan untuk pulang dan bekerja sebagai guru les.

“Waktu itu, di hati kecil saya tetap berharap untuk bekerja di bidang kesehatan yang sangat saya cita-citakan,” ujar Dina pada tugumalang.id, Senin (31/7/2023).

Sejalannya waktu, Dina mendapat informasi dari staf prodi Fisioterapi bahwa Universitas Muhammadiyah Malang mengadakan program pelatihan kerja sebagai perawat lansia / Kaigo di Jepang. Tidak pikir panjang, Dina langsung mendaftar program tersebut.

SETELAH MELAKONI SEJUMLAH TES DAN WAWANCARA, DINA AKHIRNYA DITERIMA MENGIKUTI PROGRAM PELATIHAN KERJA SELAMA 1 TAHUN DI MALANG. MENEMPUH PELATIHAN SEJAK JANUARI 2022, DINA MENARGETKAN MEMPUNYAI SERTIFIKAT N4 DAN MELANJUTKAN PEMBELAJARAN BIDANG KERJA KAIGO DENGAN TARGET LULUS UJIAN SSW KAIGO (SPECIFIED SKILLED WORKER) UNTUK MEMENUHI SYARAT VISA KERJA TOKUTEGINOU / SSW.

Di bulan yang sama, setelah lulus ujian SSW pada Juli 2022, Dina mendapat tawaran untuk mengikuti wawancara dari salah satu perusahaan fasilitas kesehatan lansia di Jepang tepatnya di Kagawa.

“Wawancara pertama itu gak lolos. Tapi gak lama pas November ada tawaran wawancara lagi kerja di Kushiro Hokkaido. Saya akhirnya lolos dan dikontrak selama 3 tahun,” kisahnya.

Bekerja di negeri sakura membuat pengalamannya di bidang kesehatan semakin kaya. Dina bahkan berbangga bisa mendapat kesempatan bersentuhan dengan berbagai macam teknologi kesehatan di sana.

Seperti alat “Kikai Nyuuyoku” misalnya. Yaitu mesin untuk memandikan pasien yang mengalami lumpuh. Mesin ini memudahkan untuk memindahkan pasien atau pengguna dari kursi roda dan bahkan bisa dilakukan oleh 1 orang perawat saja, sehingga pasien yang mengalami kelumpuhan tetap bisa berendam di ofuro dengan aman.

Contoh teknologi lain yang bisa dia gunakan seperti mastras sensor. Matras sensor ini biasa dipasang di bawah bed pasien atau pengguna dengan resiko patah tulang yang tinggi. Saat pasien turun dari bed, sensor akan berbunyi dan perawat akan datang untuk membantu dan mengawasi pasien agar tidak sampai jatuh.

“Saya merasa beruntung dan bangga bisa kerja di Jepang. Di sini saya juga belajar banyak, terutama soal kedisiplinan dan kerja cepat, tepat dan efisien,” tuturnya.

Tentu, dalam mewujudkan cita-citanya itu juga tak lepas dari Vokasi UMM. Sebelum berangkat ke Jepang, dirinya bahkan sudah dipersiapkan dengan matang. Lewat berbagai ilmu, ketrampilan dan etika disiplin. Tak hanya di Jepang saja, rutinitas aktivitas di asrama Vokasi UMM juga membiasakan diri untuk hidup disiplin.

“Setiap hari kita membersihkan dan merapikan kamar asrama. Paling gila itu, tidak boleh terlambat, karena di Jepang itu harus datang 30 menit sebelum kelas dimulai. Wah, berguna banget sih semua ilmu waktu pelatihan,” ujarnya.

Selain itum selama pelatihan juga diwajibkan untuk melakukan 3S senyum, sapa, salam saat bertemu siapapun di asrama, Di Jepang, budaya ini dikenal dengan nama Aisatsu. Bahkan, juga dikenalkan gaya hidup hemat energi seperti mencabut stopkontak saat tidak digunakan, mematikan lampu dan listrik saat selesai digunakan.

“Bahkan untuk menghadapi sesi wawancara saja itu juga dilatih. Saya terima kasih banyak buat Vokasi UMM dan para sensei di sana,” ungkapnya.

reporter: ulul azmy
editor: jatmiko

Sumber: https://tugumalang.id/kisah-ardianeswari-putri-lulusan-cumlaude-mengejar-mimpi-hingga-ke-jepang-berkat-vokasi-umm/?amp
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:

Kategori

Arsip Berita

Berita Terpopuler