Indonesia | English | Arabic
Kamis, 20 Juni 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Rektor UI: Muhammadiyah Harus Progresif-Liberatif

Berita

Rektor UI: Muhammadiyah Harus Progresif-Liberatif
» Minggu, 22 November 2009 | 00:00 WIB | Dibaca: 1371
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-864.html  berita_umm_864.pdf  berita_umm_864.doc umm-news-864-id.ps

 Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan Muhammadiyah harus terbuka terhadap pikiran-pikiran progesif-liberatif. Dengan demikian, Muhammadiyah mampu mengembalikan diri sebagai gerakan pembaharuan Islam yang sadar akan beban sejarah yang dipikulnya. “Jangan menjadi organisasi Islam yang ekslusif-tekstualis. Jadi tidak perlu khawatir dengan pemikiran progresif anak muda Muhammadiyah karena sesungguhnya wajar sebagai sebuah refleksi eforia intelektual,” kata Gumilar ketika menyampaikan makalahnya tadi malam (21/11) di UMM .

Gumilar hadir di UMM menjadi salah satu pembicara seminar Pra Muktamar Satu Abad Muhammadiyah. Seminar yang dibuka Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsudin itu akan hingga hari ini. Selain Gumilar, pembicara yang sudah memberi materinya adalah Dr. Haedar Nashir (Ketua PP Muhammadiyah). Sedangkan hari ini dijadwalkan menampilkan pemakalah Prof. Dr. Fauzan Saleh, MA, Prof. Dr. Chamamah Soeratno, dan Prof. Dr. Syamsul Arifin. Pada sesi kedua nanti, pembicaranya adalah Dr. Moeslim Abdurrahman, Dr. Yunahar Ilyas dan Prof. Dr. Amien Abdullah. Sesi terakhir sebelum penutupan adalah Prof. Dr. Ahamad Jainuri, Prof. Dr. Syamsul Anwar dan Prof. Dr. Syafiq A. Mughny.

Seminar dihadiri oleh para Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia dan Pimpinan Daerah se-Jawa Timur. Seminar ini merupakan “pemanasan” untuk memberi kontribusi pemikiran yang akan dibahas dalam Muktamar Muhammadiyah Juli tahun depan di Yogjakarta.

Lebih lanjut, Gumilar menekankan dialog antar generasi dalam Muhammadiyah. Sebab, mau tidak mau Muhammadiyah harus menyiapkan generasi penerusnya untuk sustanabilitas organisasi. Kaum tua dan kaum muda harus membangun sinergi melakukan kerja-kerja religius dan kebudayaan.

Menariknya, rektor termuda dalam sejarah UI ini menyimpulkan bahwa metodologi tajdid dalam Muhammadiyah harus bisa diterapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Metodologi burhani, bayani dan irfani untuk mencari kebenaran bisa menjadi model dalam mengintegrasikan rumpun ilmu eksakta, sosial-humaniora, dan kedokteran dengan konsep yang disebutnya sebagai horizontalisme-substansi.

“Horizontalisme berfokus pada konvergensi ilmu berdasarkan prinsip knowledge without walls yang emmiliki dua target. Pertama, menyelesaikan persoalan secaralebih tajam dan komprehensif. Dan kedua mengembangkan bidang baru yang lebih spesifik,” lanjut Gumilar.

Dalam sesi dialog, konsep horizontalisme ini menjadi bahan perdebatan menarik. Seorang penanya, misalnya, menggugat bagaimana konsep ini menempatkan rujukan Al-Qur’an dan As-sunah dan ayat-ayat alam. Gumilar berpendapat, justru konsep itu relevan menjawab keseimbangan antara keduanya. (nas)   

 


Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama