Indonesia | English | Arabic
Kamis, 23 Mei 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> PSIF: Spiritualitas Warga Muhammadiyah Perlu Guidelines

Berita

PSIF: Spiritualitas Warga Muhammadiyah Perlu Guidelines
» Senin, 13 Agustus 2012 | 10:36 WIB | Dibaca: 1682
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-2996.html  berita_umm_2996.pdf  berita_umm_2996.doc umm-news-2996-id.ps

 

 

 

Kolokium Ulama Muhammadiyah yang membahas neo-sufisme

Kolokium Ulama Muhammadiyah yang membahas neo-sufisme menurut Muhammadiyah memasuki sesi ke-2, Sabtu (11/8), setelah bulan lalu menyelesaikan sesi pertama. Acara yang digelar Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kali ini menghadirkan beberapa narasumber, antara lain Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq A Mughni, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim KH Muammal Hamidy, LC, dan Dosen FAI UMM Drs. Fathurahim, MA.

Beberapa ulama Muhammadiyah hadir sebagai peserta aktif, di antaranya KH Abdul Munir dari Ponpes Modern Paciran, KH Anwar Mu’rob dari Ponpes Karang Asem Paciran dan KH Afnan Ansori dari Ponpes Muhammadiyah Brondong Lamongan. Sesi diskusi berlangsung seru ketika konsep dan praktik tashawuf diperdebatkan.

Syafiq memandang  fenomena tashawuf yang dijadikan cara keberagaman umat Islam justru menyebabkan kemunduran umat Islam. Ajaran ini menjadikan wali sebagi orang suci yang memiliki kemampuan luar biasa (karamah), bisa memberikan berkah dan menghindarkan dari bencana. Mereka dikultuskan, dijadikan wasilah bagi orang yang ingin berdoa kepada Allah SWT. Orang lebih mengandalkan berkah wali daripada berusaha bersungguh-sungguh dengan cara bekerja keras. Praktik keberagamaan ini pada gilirannya dipenuhi dengan tahayul, bid’ah dan khurafat. Ajaran Islam menjadi tertutup dari semangat reformisme melalui purifikasi kembali kepada ajaran Al-Quran dan Sunah yang otentik.  

Pandangan yang sama dikemukakan Mu’ammal. Ciri-ciri tarekat yang menjadikan mursyid an murabbi sederajat dengan wali dan memiliki karamah dan mencari-cari hubungan dengan nabi. Selain itu ada dzikir-dzikir khas yang konon diterima dari alam ghaib atau dari Rasul dengan keadaan sadar atau mimpi bertemu Rasul. “Dzikir-dzikir itu begitu istimewa sehingga melebihi dzikir dalam Al-Quran dan Sunnah,” ungkap Mu’ammal.

Semangat reformisme, kata Syafiq, muncul setelah Ahmad bin Hanbal dan pengikutnya Ibn Taimiyah yang menentang Syi’ah dan Mu’tazilah, serta anti tashawuf lalu diinspirasi oleh Muahammad bin Abd al-Wahhab yang memberantas penyimpangan berupa bid’ah, khurafat dan syirik. Sikap Wahhab yang anti tarekat menjadikannya sebagai sasaran yang diberi label Wahhabi.

Muhammadiyah diakui Syafiq memang bersentuhan dengan figur-figur tadi sehingga dengan mudah diasosiasikan sebagai organisasi yang anti-tasawuf dan anti-tarekat. Muhammadiyah secara apriori menolak bentuk spriritualisme tersebut walau sikap ini tidak tampak pada masa KH Ahmad Dahlan tetapi muncul pada masa kemudian.   

Mu’ammal juga menegaskan, jika cara tashawuf seperti itu yang ingin ditengok oleh Muhammadiyah sebagai cara beragamanya, maka sama saja dengan set back 1 abad. “Justru alasan didirikannya Muhammadiyah adalah memurnikan ajaran Islam dari hal-hal tahayul, bid’ah dan khurafat tadi,” katanya.  

 “Pandangan Muhammadiyah untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunah telah menegaskan secara normatif bahwa Nabi Muhammad adalah model par excellence yang harus dirujuk dalam semua aspek kehidupan,,” kata Syafiq lebih lanjut. Selain memberi contoh ibadah, Nabi juga memberi contoh perilaku berpolitik, ekonomi, dan sebagainya.

Kedua tokoh itu sepakat agar Muhammadiyah tetap konsisten menolak praktik spiritualitas yang tidak bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Jika modernism dianggap telah menggusur spiritualisme dan kebutuhan untuk mengisi spiritualitas itu dengan wirid, maka harus menggunakan wirid yang sesuai ajaran otentik.

“Muhammadiyah dikenal dengan kehidupan yang zuhud dalam arti menekankan perolehan harta yang halal, tidak rakus, dan suka berderma. Warga Muhammadiyah juga memperbanyak sholat, membaca Al-Quran dan behkan menghafalkannya,” kata Syafiq.

Praktek tashawuf yang tidak diasosiasikan dengan praktek yang ekstrim, tidak meninggalkan syariah, tidak punya guru tetap, tidak punya formula zikir tetap, tidak anti-duniawi, mengedepankan moral dan mendekatkan diri pada Tuhan, kata Syafiq, bisa diterima di kalangan Muhammadiyah.

Sementara itu Fathor Rahim dalam makalahnya menawarkan beberapa bacaan dzikir yang dikutip dari hadits yang sahih. Bacaan-bacaan yang biasa dipraktikkan oleh warga Muhammadiyah itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan anti-zikir.

Ketua PSIF Nurhakim berharap dari forum ini muncul ide-ide perumusan guideline bagi warga Muhammadiyah untuk tetap memiliki spiritualitas tetapi tidak dengan cara yang menyimpang. Tentu saja, sumber-sumber otentik yang sesuai syariah harus digali terus menerus sehingga apa yang dirumuskan itu bisa dipertanggung jawabkan. “Keberagamaan warga Muhammadiyah yang mengutamakan hidup zuhud sebagai asketisme sosial bisa merupakan cara pencarian spiritualitas yang bisa dipertimbangkan sebagai ahlak yang tidak menyimpang dari tauhid. Tugas kampus adalah memfasilitasi pencarian itu,” kata Nurhakim. (nov/nas)

 

 

 

 

 


Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terkini

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama