Indonesia | English | Arabic
Rabu, 22 Mei 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Madrasah Ramadhan PSIF Kaji Tasawuf

Berita

Madrasah Ramadhan PSIF Kaji Tasawuf
» Selasa, 31 Juli 2012 | 11:32 WIB | Dibaca: 1529
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-2973.html  berita_umm_2973.pdf  berita_umm_2973.doc umm-news-2973-id.ps
 

Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Madrasah Ramadhan. Berbeda dengan tahun lalu yang mengangkat tema teologi al-maun, kali ini PSIF mengambil tajuk kajian tasawuf modern. Acara dirangkai dengan kolokium ulama Muhammadiyah se-Jawa Timur.

Kepala PSIF, Nurhakim, mengatakan kajian tasawuf sangat relevan dikaji dibulan Ramadhan. Bulan inilah saatnya kita mensucikan diri, menjauhkan diri dari sifat serakah duniawi, sebagaimana ajaran tasawuf. “Seluruh umat berharap bisa kembali ke fitrah, setelah melewati bulan suci Ramadhan ini,” kata Nurhakim.

Acara berlangsung Sabtu (28/7), dan diikuti berbagai kalangan, terutama ulama Muhammadiyah.  Agenda tahunan PSIF ini dimaksudkan untuk mengkaji secara serius fenomena keagamaan yang terjadi pada masyaralat modern.

Salah seorang nara sumber, Prof Dr Fuad Effendy, menerangkan saat ini kehidupan masyarakat modern diwarnai kehausan spiritual. Kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh kalangan perkotaan dengan tingkat pendidikan yang memadai menunjukkan betapa kebutuhan akan spiritualitas sangat tinggi.

“Sebaliknya, di kalangan umat Islam sendiri spiritualitas sudah seperti ritual saja, tidak dihayati,” ujar Guru Besar STAIN Kediri ini. Malahan, banyak umat Islam yang mulai sok modern dengan meninggalkan ruh keislamannya.

Tasawuf, lanjut Fuad, bukan mengajak kita meninggalkan keduniaan, tetapi menambah porsi spiritualitas dalam menghadapi masalah dunia. Tasawuf membersihakn hati setiap insan. “Banyak yang mengaku Islam secara lahiriah, tetapi kering batinnya, spiritualnya,” kritiknya. 

Nurhakim mengatakan, bagi Muhammadiyah kajian tentang tasawuf merupakan wujud asketisme yang menekankan pada hidup bersih. Asketisme tersebut memberikan gambaran bagaimana seseorang sebaiknya meraih kehidupan di dunia dengan tidak membabi buta. “Setelah seseorang menjalankan kewajibannya kepada Allah, manusia juga dituntut untuk membaur dalam lingkungannya untuk berbagai terhadap sesama,” kata Nurhakim.  Acara akan dilanjutkan kembali Sabtu (11/8) depan. (nov/nas)

 


Comment:


Haeri Fadly
06-08-2012
00:19:50
في هذا الشهر يبدأ التسكية النفس Mohon diperiksa, kata "tasqiyat an-nafs" apa uda benar kayaknya pakai huruf "QAF" bukan "KAF" yang Prof. Dr dari STAIN itu namanyan. Prof. Dr. Fauzan Saleh, bukan Ahmad. Fuad Effendy. Makasih"

» Balas

Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama