Indonesia | English | Arabic
Kamis, 23 Mei 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Sutrisno Bachir: Kedermawanan dan Kesabaran Harus Dilatih

Berita

Sutrisno Bachir: Kedermawanan dan Kesabaran Harus Dilatih
» Selasa, 26 Juni 2012 | 10:57 WIB | Dibaca: 1218
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-2911.html  berita_umm_2911.pdf  berita_umm_2911.doc umm-news-2911-id.ps

 


             

 

   Kedermawanan dan kesabaran ternyata tidak mudah dilakukan. Bagi orang yang tidak terlatih melakukannya akan mengalami keengganan bahkan kesulitan. Spirit perjuangan dan kepekaan terhadap orang lain harus diperjuangkan.

                Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Pusat, Sutrisno Bachir, menyampaikan hal itu, Senin (25/6) malam, di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam kesempatan itu, SB, sapaan saudagar asal Pekalongan, ini melantik pengurus KB PII Cabang Malang Raya yang dipimpin Prof Dr Maryunani SE MM.

                “Seseorang yang tidak terbiasa dengan hidup bersama orang bawah akan sulit merasakan penderitaan mereka sehingga sulit untuk menjadi dermawan,” kata SB. Untuk itu kedermawanan harus ditumbuhkan melalui latihan kepekaan di masyarakat. Dia menyontohkan anaknya yang disekolahkan SD di Singapura, tidak terbiasa melihat orang menderita dan tidak terbiasa membantu orang lain. Akibatnya,”Anak saya jadi pelit. Ini tidak saya harapkan,” lanjutnya.

                Demikian juga kesabaran. Sabar terhadap teman sebaya atau sekerja mungkin sudah sering terjadi. “Tetapi bagaimana jika kesabaran diuji oleh sopir pribadi, pembantu rumah tangga, apakah kita masih bisa bersabar?” tanya SB.

                Pengalaman SB sebagai ketua umum parpol menjadikannya seorang yang pernah lalai terhadap kedermawanan dan kesabaran itu. Sebaliknya, sebagai orang yang selalu dikawal dan dilayani, menjadikannya angkuh dan sombong. Bagaimana tidak, sebagai orang nomor 1 di parpol semua tercukupi dan informasi yang masuk serba yang baik-baik saja dari bawahan. Sehari-harinya bergaul dengan kalangan elit, disanjung-sanjung.

                “Menjadi ketua PB PII merupakan suatu kebahagiaan berada di tengah-tengah orang yang tulus, memiliki ideologi yang sama dan semangat perjuangan yang sama. Saya benar-benar merasa kembali ke jalan yang benar,” ujar mantan ketua umum PAN ini.

                Di sisi lain, SB memprihatinkan jaringan antar umat Islam yang tak dapat memanfaatkan peluang bisnis. Di Indonesia jaringan bisnis masih dikuasai oleh kalangan Tionghoa. Padahal sebuah negara bisa maju apabila didominasi oleh bangsanya sendiri. “Jepang maju karena dikuasai bangsa Jepang, demikian juga Korea, Cina, Turki dan Arab. Tapi Indonesia, bisnis kaum muslim pribumi masih sangat minim dibanding  kelompok Tionghoa,” ungkap SB.

                Itulah sebabnya, SB mengajak kepada alumni PII untuk bekerja dan berjuang. Jangan terlalu berharap dari PII karena mereka masih pelajar yang dalam taraf belajar memimpin. “Kita-kita inilah di usia yang memimpin yang harus berjuang. Jangan segan-segan turun ke bawah, bila perlu intervensi kepada adik-adik di PII,” ujar SB.

Sementara itu, ketua KB PII Jawa Timur, Muhadjir Effendy, mengaku PII telah membentuk karakter perjuangannya. Kebanyakan kader PII memiliki semangat yang sama, yakni kesatuan umat Islam. “Semangat kader-kader PII adalah bagaimana umat Islam yang besar ini bersatu,” kata rektor UMM ini. (nov/uci/nas)

 


Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terkini

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama