Indonesia | English | Arabic
Minggu, 26 Mei 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Kuliah Tamu Dorong Produktivitas Riset Komunikasi Antarbudaya

Berita

Kuliah Tamu Dorong Produktivitas Riset Komunikasi Antarbudaya
» Senin, 11 Juni 2012 | 14:42 WIB | Dibaca: 1546
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-2890.html  berita_umm_2890.pdf  berita_umm_2890.doc umm-news-2890-id.ps

 


 

Pakar komunikasi antar Dr. Turnomo Rahardjo dalam kuliah tamu jurusan ilmu komunikasi UMM

Kuliah Tamu Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Dr Turnomo Rahardjo. Pakar Komunikasi Antarbudaya Universitas Diponegoro, Semarang, itu memberi materi tentang teori dan metode penelitian komunikasi antarbudaya, di aula AR Fahruddin, Rabu (6/6).

Dalam paparannya, Turnomo mengatakan Indonesia merupakan bangsa yang unik. Keragaman di Tanah Air dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” ini tidak tertandingi Negara lain. “Tetapi dengan adanya keberagaman budaya seperti ini juga dapat memicu konflik yang dilatar belakangi oleh kebudayaan, seperti konflik yang terjadi di Sampit,” katanya.

 Lebih lanjut ia juga menyinggung tentang pengklaiman kebudayaan yang sering diakui oleh negara lain, yaitu kasus Tari Pendhet yang ditampilkan dalam iklan pariwisata Malaysia. Menurutnya dengan keadaan seperti ini seharusnya bangsa Indonesia dapat intropeksi diri terhadap kebudayaan yang dimiliki agar dapat merawat dan melestarikan kebudayaan.

“Selama ini bangsa kita lemah dalam kebudayaan dan hukum, karena kebudayaan kita banyak yang tidak dipatenkan hal yang seperti inilah yang memicu pengklaiman kebudayaan dari negara lain,” ungkapnya lebih lanjut.

  Turnomo berpendapat, hal tersebut hanya sebagai persoalan jualan pariwisata Malaysia saja. Itu disebabkan  karena Malaysia tidak memiliki kebudayaan yang beragam seperti Indonesia, sehingga dalam iklan pariwisatanya Malaysia mengambil kebudayaan Indonesia. “Meski demikian, dari segi etika komunikasi tentu hal tersebut layak dipertanyakan, ” tutur Turnomo.

Mahasiswa Komunikasi didorong untuk lebih banyak melakukan riset komunikasi antarbudaya. Kekayaan budaya di Indonesia dinilai sangat potensial untuk dijadikan obyek penelitian. Sebaliknya, riset juga diharapkan dapat lebih memberi kontribusi memperkaya dan memperkuat budaya bangsa. “Penelitian komunikasi antarbudaya memungkinkan untuk dijadikan dasar pendekatan resolusi konflik. Kadang kita tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang, tetapi jika dengan penelitian, banyak data yang bisa berbicara,” kata Turnomo.

Turnomo juga mengusulkan adanya dialog yang membicarakan tentang klaim kebudayaan antara dua negara. Namun Indonesia sebelumnya harus mempunyai hukum yang kuat agar kebudayaan itu dapat dipatenkan oleh negara lain,”  katanya.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UMM, Nurudin, MSi, menjelaskan kegiatan ini sebagai bagian dari tradisi akademik yang baik. Mahasiswa Komunikasi yang dikenal memiliki kreativitas tinggi diharapkan juga memiliki kepekaan terhadap tema-tema penelitian yang bersangkutan dengan problem sosial, bukan hanya problem praktis di profesinya. “Ke depan saya berharap mahasiswa lebih kaya lagi mengangkat tema-tema penelitiannya,” harap Nurudin. (nov/nas)

 


Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terkini

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama