 |
| Pemimpin Redaksi Trans TV, Gatot Triyanto menjelaskan tentang jurnalisme investigasi di televisi kepada peserta kuliah tamu |
Pemimpin Redaksi Trans TV, Gatot Triyanto, menawarkan magang jurnalistik bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal itu disampaikannya secara langsung kepada peserta Kuliah Tamu Jurnalisme Investigasi Sabtu (19/5) di ruang sidang FEB UMM.
“Yang berminat langsung saja menghubungi saya,” kata Gatot usai memberi materi tentang seluk beluk acara Reportase Investigasi di depan sekitar 100 mahasiswa Komunikasi dan jurnalis kampus.
Sejauh ini lulusan UMM yang bekerja di Trans TV sudah menunjukkan kinerja yang sangat baik. Ke depan, agar benar-benar siap jadi jurnalis maupun jadi broadcaster, sebaiknya melakukan magang dulu. “Magang penting untuk mengenal situasi kerja dan mudah untuk menyesuikan diri,” tambah Gatot.
Sebaliknya, UMM menawarkan kepada Trans TV untuk memanfaatkan laboratorium yang ada di kampus untuk kepentingan investigasinya. Kepala Humas, Nasrullah menyatakan siap membantu stasiun televisi swasta itu untuk melakukan riset pasca maupun sebelum melakukan investigasi. Hasil-hasil riset dosen dan mahasiswa UMM, katanya, sangat penting dipublikasikan melalui media televisi.
“Saya kira UMM siap dengan fasilitasnya untuk membantu memberi pencerahan kepada masyarakat melalui hasil-hasil penelitiannya. Melalui tayangan investigasi dan hasil uji lab UMM, semoga masyarakat semakin aware terhadap apapun yang ada di sekitarnya,” kata Nasrullah.
PR I UMM, Prof. Dr. Bambang Widagdo, MM, menilai media saat ini memainkan peran yang sangat strategis. Banyak hasil investigasi televisi menjadi pembicaraan masyarakat dan berhasil menyadarkannya. Namun, menurutnya, jika tidak hati-hati tayangan televisi juga bisa merusak masyarakat. “Pilihan di dunia komunikasi untuk mengelola informasi saya kira sangat tepat,” kata PR I ketika membuka acara.
Gatot membenarkan ada kontradiksi ketika hendak meliput atau menayangkan hasil investigasinya. Misalnya, tentang makanan yang mengandung zat-zat berbahaya. Sebab, sebagian hasil investigasi itu menyangkut masyarakat kelas bawah, seperti penjual bakso, jajanan di sekolah-sekolah, ikan asin dan sebagainya. Akibatnya, jika tayangan itu diterima masyarakat akan berdampak pada menurunnya omset penjualan. Padahal belum tentu para penjual itu termasuk yang curang.
“Kita bagai menghadapi pisau bermata dua. Jika ditayangkan kuatir berdampak pada penjual lain, tetapi jika tidak ditayangkan akan banyak masyarakat yang tidak tau menjadi korban,” ungkap Gatot. “Bisa jadi para penjual itu memang tidak tau akan bahaya zat-zat itu”.
Dalam diskusi terlontar berbagai kritik kepada Trans TV. Beberapa peserta menanyakan apakah ada rekayasa dalam meliput berita, apakah tidak merupakan komodifikasi jika memanfaatkan nara sumber. “Kenapa Trans TV tidak melakukan pemberdayaan kepada masyarakat kecil yang dirugikan tadi, misalnya dengan melakukan CSR kepada mereka,” tanya dosen Komunikasi, Frida Kusumastuti.
Menanggapi berbagai pertanyaan itu, Gatot mengaku senang dan berterima kasih karena mengandung kritik dan masukan. Baginya, investigasi itu idenya bisa berasal dari mana saja, termasuk dari forum ini.
“Ide melakukan CSR kepada para pedagang kecil tadi saya kira sangat menarik. Trans TV memiliki CSR, tetapi tentu bukan di bagian news. Ini akan saya teruskan kepada manajemen,” kata Gatot.
Gatot berharap ke depan bisa berdiskusi lebih lanjut dengan mahasiswa UMM. Dia terkesan dengan kampus swasta yang dinilainya sangat besar. “Saya siap mampir jika suatu saat nanti saya ke Malang lagi,” kata teman sekelas Prof. Dr. Ir Noorharini, dosen FPP UMM, itu selama di ITB dulu. (nov/uci/nas)