 |
| Rektor UMM, Muhadjir Effendy menyambut baik seminar dan berharap mampu menghasilkan rumusan riil bagi masyarakat. |
Seminar tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memunculkan sejumlah kritik terhadap pemerintah. Seminar bertajuk “UMKM sebagai leading sector ekonomi” yang berlangsung di UMM Dome, Sabtu (1/10), diikuti tak kurang 300 peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, dan praktisi dari seluruh Indonesia.
Tulus T.H. Tambunan, salah seorang pembicara dari Center for Industry and SME Studies, Universitas Trisakti Jakarta mensinyalir UMKM terlalu banyak dikampanyekan sebagai suatu gerakan. Misalnya, dengan gerakan menyintai batik. “Gerakan itu tak bisa mendorong perubahan, seharusnya yang kita butuhkan adalah perubahan,” ujarnya.
Lebih jauh, kata Tulus, meski sangat diharapkan menjadi andalan ekonomi Indonesia, UMKM tak bisa berharap banyak dari pemerintah. “UKM sendirilah yang harus berjuang berkompetisi dengan pengusaha-pengusaha besar,” tegas Tulus.
Sebagai perbandingan, Tulus menyontohkan di Amerika Serikat, Jerman dan Jepang. Di tiga Negara itu, UKM sangat kuat dan bisa bersaing dengan binsis besar. Potensi Indonesia untu UKM dinilainya sangat besar. Hal ini terlihat dari pengakuan dalam pertemuan APEC mengenai UKM di Taiwan baru-baru ini.
“UKM sangat penting bagi ekonomi lokal. Selain itu, dia menyediakan lapangan pekerjaan yang berarti mengurangi kemiskinan. UKM juga menggunakan teknologi lokal yang bahan bakunya tersedia melimpah,” kata Tulus.
Sebelumnya, rektor UMM, Muhadjir Effendy menekankan tiga kekuatan strategis dalam menentukan stabilitas ekonomi dan keamanan suatu bangsa. Dia menyayangkan, perlindungan terhadap civil society terasa kurang. Misalnya, masyarakat seakarang harus mati-matian bersiang dengan munculnya waralaba supermarket di mana-mana.
“Pada gilirannya, pola ini akan mengancam kelompok UKM, seperti warung-warung kecil dan pasar tradisional,” kata Muhadjir. Dia menyambut baik seminar ini dan berharap menghasilkan rumusan riil bagi masyarakat.
Dekan FEB UMM, Nazruddin Malik, membenarkan hal itu dan akan menjadikan FEB UMM memiliki koneksitas dengan bidang-bidang ilmu lain mengingat factor non-ekonomi juga sangat menentukan. Perubahan nama fakultas dari DE ke FEB, menurutnya, memiliki konsekuensi ke arah sana.
Sementara itu, Deputi Pengawasan Perbankan Pimpinan BI Malang, Laksono Dwionggo, menyatakan bank hanya merupakan perantara yang membantu UMKM. Tugas BI adalah melindungi uang yang menjadi modal masyarakat yang disimpan di dalamnya.
“Bank merupakan lembaga perantara, misalnya masyarakat yang memiliki kelebihan dana disalurkan kepada masyarakat yang kekurangan dana. Hal ini melalui layanan perkreditan yang dapat digunakan oleh para pengusaha UMKM. Bank sangat berperan dalam membantu perkembangan UMKM di Indonesia,” terang Laksono.
Kepada para mahasiswa FEB, Kepala urusan UMKM Dinas Koperasi dan UKMK Jatim, Endah Setiarini, berpesan agar lulusan FEB menjadi pengusaha. “Dengan demikian kalian bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan membantu pertumbuan ekonomi Indonesia,” kata Endah.
Seminar dilanjutkan dengan pemaparan peserta call for paper. Sejumlah 22 artikel dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia dipresentasikan. “Hasil dari seminar dan call for paper ini akan kami bukukan sebagai bahan dan masukan untuk penguatan UMKM di masa dating,” kata Ihyaul Ulum, ketua panitia. Seminar ini merupakan rangkaian Diesnatalis FEB UMM yang ke-47. (bib/vid/nas)