Indonesia | English | Arabic
Senin, 20 Mei 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Problem Kemahasiswaan Bersifat Inkonvensional

Berita

Problem Kemahasiswaan Bersifat Inkonvensional
» Sabtu, 25 Juni 2011 | 11:49 WIB | Dibaca: 1681
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-2072.html  berita_umm_2072.pdf  berita_umm_2072.doc umm-news-2072-id.ps
Ketua PP Muhammadiyah Prof. HA Malik Fadjar sedang membahas permasalahan kemahasiswaan serta upaya pemecahannya.

Pertemuan Nasional Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) bidang kemahasiswaan hari ini (25/06) memasuki hari pertama dari dua hari yang direncanakan hingga besok. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Majlis Dikti PP Muhammadiyah, Dr. Chairil Anwar dilanjutkan dengan materi pertama oleh Ketua PP Muhammadiyah Prof. HA Malik Fadjar.

Rektor UMM Dr Muhadjir Effendy menyambut baik pertemuan ini karena bidang kemahasiswaan dinilainya sebagai bagian terpenting dalam mengelola perguruan tinggi. “Mungkin pimpinan perguruan tinggi yang pahalanya paling banyak adalah yang mengurusi kemahasiswaan,” kata Muhadjir.

Menurut rektor, problem kemahasiswaan bersifat inkonvensional, serba tidak pasti. Ini berbeda dengan urusan akademik yang harus
mengurusi yang pasti-pasti, misalnya, mengurusi kurikulum yang harus jelas, rutin dan terukur. Sedangkan kemahasiswaan bersifat dinamis, permasalahannya bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Kondisi tiap perguruan tinggi juga berbeda-beda, sehingga perlu penanganan yang tidak seragam. Ada kampus yang sepenuhnya muslim dan Muhammadiyah, ada yang 80% non Muhammadiyah, bahkan ada yang mayoritas non Muslim. “Mengurusi mahasiswa adalah mengurus pengkaderan umat dan bangsa. Setiap PTM harus pandai-pandai mengkreasi kekhususan masing-masing,” lanjut rektor.

Rektor berharap dalam pertemuan ini menghasilkan rumusan untuk langkah yang lebih kongkrit, seperti, even nasional yang dikelola bersama antar PTM. Misalnya, melakukan KKN bersama PTM seluruh Indonesia di sebuah daerah sebagaimana yang pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu Chairil Anwar membenarkan bahwa mahasiswa PTM adalah asset umat dan bangsa. Di beberapa daerah, mahasiswa adalah pendiri Muhammadiyah di pelosok-pelosok. Perannya sangat penting karena mereka mengalami pendidikan di PTM.
Menurut Chairil, ada tiga titik penting yang akan dibahas dalam pertemuan ini. Pertama, membahas mahasiswa sebagai obyek atau subyek dalam pendampingan. Kedua, penekanan pada penyiapan SDM mahasiswa ke arah knowledge based economy.  Dan ketiga, penekanan pada emotional quotion (EQ) mahasiswa, sebagai kemampuan non akademik untuk menyiapkan pemimpin masa depan.     
Pertemuan diikuti 155 Pembantu Rektor, Wakil Ketua dan Wakil Direktur bidang kemahasiswaan PTM se-Indonesia. Goal kegiatan ini adalah menyiapkan konsep aksi untuk mengintegrasikan pola serta strategi pendampingan kemahasiswaan di lingkungan PTM. (nas)
 
 

Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama