 |
| Prof. Dr. Din Syamsuddin memberikan sambutan pada acara pengukuhan Guru Besar UMM |
Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, untuk kali pertama menghadiri sebuah acara pengukuhan Guru Besar di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Kali ini yang ‘ketiban rizki’ adalah dua guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Din hadir dan memberi sambutan untuk pengukuhan Prof Dr Bambang Widagdo MM dan Prof Dr Ir Indah Prihatini, Sabtu (21/05) di UMM Dome.
“Saya ucapkan selamat kepada kedua guru besar dan kepada UMM yang telah menambah guru besarnya. Semoga dengan pengukuhan ini menambah kampus besar UMM ini menjadi center of academic excellence,” kata Din dalam sambutan singkatnya.
Menariknya, dua guru besar yang dikukuhkan rektor Dr Muhadjir Effendy, MAP kali ini adalah dua penggawa Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM. Bambang adalah direktur DPPM, sedangkan Indah merupakan Kepala Divisi Publikasi, Dokumentasi dan Jurnal di unit yang sama.
Bambang dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), sedangkan Indah sebagai guru besar bidang pakan dan nutrisi ternak Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP).
“Keduanya merupakan dosen yang produktif dalam melakukan riset, pengabdian dan penemuan berbasis paten. Perannya di DPPM sangat besar sehingga UMM dikenal sebagai kampus swasta paling produktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat,” kata PR I Prof Dr Ir Sujono Mkes.
Bambang dan Indah menambah jumlah guru besar yang dikukuhkan akhir-akhir ini. Dalam tiga tahun terakhir UMM telah mengukuhkan setidaknya 11 guru besar. Dalam waktu dekat jumlah tersebut akan terus bertambah menyusul bertambahnya dosen bergelar doktor yang sudah memproses kepangkatannya menuju profesor.
Rektor mengatakan bertambahnya guru besar di UMM adalah sebuah keniscayaan. Sebab dengan tumbuh majunya universitas maka determinasi akademik para dosennya juga harus diperkuat.
Sebagai gelar akademik tertinggi bagi seorang dosen, gelar profesor mengandung konsekuensi profesionalme yang harus diemban oleh penyandangnya. Tanggung jawab sosialnya, antara lain, menjadikan ilmunya semakin matang dan bermanfaat bagi masyarakat luas. “Menjadi dosen ataupun guru adalah panggilan jiwa, oleh karena itu ketulusan dan kematangan dalam mengabdi kepada masyarakat harus dijunjung tinggi,” kata Muhadjir.
Pengalaman dan kepakaran dua guru besar baru UMM ini tak diragukan lagi. Keduanya memiliki pengalaman mengabdi di bidangnya lebih dari 20 tahun. Bambang adalah dosen yang pernah menjadi kepala Biro Keuangan, Pembantu Dekan I serta Dekan FE. Sebelum menjadi direktur DPPM, Bambang pernah menjabat sebagai kepala Lembaga Penelitian UMM. Bambang juga dikenal sebagai direktur CEERD UMM yang pernah menjadi dosen teladan se-Kopertis VII pada tahun 1992.
Sementara itu Indah dikenal sebagai dosen yang dekat dengan petani dan peternak. Hasil-hasil penelitian dan tiga temuan hak paten mantan ketua jurusan dan PD I ini diaplikasikan untuk membina petani organik di daerah Malang. Konsistensi pada temuan-temuan produk biomolekular banyak digunakan untuk membantu para petani dan peternak.
Bambang membawakan pidato pengukuhan berjudul “Tata Kelola, Tanggung Jawab Sosial dan Keberlanjutan Korporasi”. Dalam pidatonya, Bambang berpendapat agar pelaksanaan tata kelola organisasi laba atau korporasi dapat diwujudkan secara bersih dan baik, diperlukan prakondisi bahwa semua pihak dalam masyarakat dapat mendukung terlaksananya tata kelola perusahaan yang baik pula. “Dalam terminologi modern, hal itu disebut good corporate governance (GCG),” kata Bambang.
Suami dari dosen FKIP UMM Dr Sugiarti, ini mengatakan tata kelola yang baik sebenarnya diajarkan oleh Rasulullah. Sebagaimana hadits Rasul yang artinya sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan dengan baik. “Penting sekali mendasari upaya itu dengan iman kepada Allah SWT,” ujar guru besar ke-3 FE UMM ini.
Bambang mengakui meski pelaksanaan tanggung jawab sosial korporat selama ini sudah cukup berjalan, tetapi masih sedikit yang memiliki kepekaan terhadap kepedulian terhadap lingkungan. Kepedulian pada stakeholder, lanjutnya, sudah sering dilakukan oleh korporat tetapi menjadikan lingkungan sebagai concern masih sangat langka. Banyak yang menganggap bahwa apabila ada bencana alam itu urusan anggaran negara yang harus menanggungnya. Padahal penggunaan alam oleh korporat secara langsung maupun tak langsung berpotensi mengurangi kekuatan alam itu.
“Jadi ini persoalan etik saja, sejauh mana korporat sensitive terhadap alam, umumnya mereka tidak sensitif,” kata Bambang.
Kepada mahasiwa Bambang berpesan agar tak hanya mencari ilmu tetapi juga meningkatkan interaksi dengan berbagai pihak melalui media seminar dan diskusi. Hal ini, kata ayah dari M Budi Prayogo dan Atika Permatasari, merupakan tantangan bagi kaum muda. Dari pengalaman berinteraksi dengan berbagai pihak itulah Bambang berhasil menulis setidaknya tujuh buku tentang manajemen. Buku yang terakhir berjudul Pemodelan Persamaan Struktural Aplikasi dalam Penelitian Bisnis diluncurkan pada saat pengukuhan kali ini.
Sementara itu, Indah Prihartini oleh petani binaannya, Indah sering disebut sebagai “Ibu Petani Organik” karena berhasil membantu meningkatkan hasil panen dengan produk organik yang tak hanya sehat tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. “Setiap kami butuh pembimbingan bu Indah selalu siap kami datangkan,” kata Mukani, petani dari Pakisaji, Kabupaten Malang.
Dalam pidatonya Indah menyoroti peran bioteknologi pada peningkatan ketahanan dan keamanan pakan dan pangan yang berkelanjutan. Pemilik tiga hak paten ini merupakan peneliti yang selalu konsisten pada pengembangan produk bioteknologi berbasis bakteri lignochloritik. Produk itulah yang dimanfaatkan untuk membina petani organik di berbagai daerah di kabupaten Malang.
“Saya memang memfokuskan pada bioteknologi berbasis bakteri lignochloritik. Baik penelitian, penulisan buku, maupun pengabdian masyarakat saya arahkan untuk merubah pola pikir masyarakat pada pakan dan pangan yang aman dari bahan-bahan kimia,” kata dosen yang memeperoleh gelar profesor persis setelah 20 tahun mengabdi di UMM.
Bagi istri dari Agoes Prijono ini, mempelajari mikroba dapat dianalogikan seperti bekerja di UMM. Kebanggaannya sebagai dosen UMM dan sempat mengalami masa susah ketika UMM masih relatif belum dikenal orang adalah sikap kreatif dan tetap bisa bergerak walaupun kecil. “Mikroba itu gesit, selalu punya cara untuk bekerja walau ruang geraknya sempit,” kata Indah mengibaratkan situasi kerjanya pada masa ‘susah’. “Itulah sebabnya dosen UMM hebat-hebat dalam berkarya,” lanjutnya.
Di berbagai forum, kata dosen berprestasi UMM 2011 ini, UMM selalu memperoleh pujian baik dalam hal karya maupun performansnya. Hal ini karena dosen UMM selalu belajar dari pimpinan yang memberi tauladan yang baik. “Sepanjang saya menjadi kepala lab maupun ketua jurusan, banyak belajar dari pak Muhadjir yang waktu itu masih PR I. Setiap rapat, saya seperti memperoleh kuliah tentang manajemen akademik, manajemen perguruan tinggi,” ujar Indah yang lahir di Bogor tahun 1965.
Dekan FEB Dr Nazaruddin Malik optimis Bambang dapat mamacu yuniornya untuk terus maju. “Prof Bambang adalah sosok inspiratif yang sering melakukan sharing dengan dosen-dosen muda,” kata Nazaruddin.
Hal senada diungkapkan dekan FPP UMM Dr Damat MP tentang Indah. Dia berharap dengan bertambahnya guru besar di fakultasnya ini dapat meningkatkan citra dan gengsi pertanian dan peternakan. FPP merupakan salah satu fakultas di UMM yang memiliki guru besar terbanyak dengan temuan-temuan inovatif. Belakangan FPP UMM mengalami peningkatan minat mahasiswa karena terbukti dapat mencetak sarjana handal dan profesional. “Pasar kerja pertanian dan peternakan sangat luas dan bergengsi,” kata Damat. (han/nas)