Indonesia | English | Arabic
Selasa, 21 Mei 2013
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Workshop Syari'ah dan HAM Kerjasama UMM - Oslo Coalition

Berita

Workshop Syari'ah dan HAM Kerjasama UMM - Oslo Coalition
» Rabu, 26 Januari 2011 | 16:21 WIB | Dibaca: 2438
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-1836.html  berita_umm_1836.pdf  berita_umm_1836.doc umm-news-1836-id.ps
 
Workshop Syari’ah dan HAM Kerjasama UMM di hotel UMM IN

 

Program Pascasarjana (PPs) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama Oslo Coalition for Human Right, Norwegia, menggelar workshop on Shariah and Human Right, Senin (17/01) di hotel UMM Inn. Acara yang diikuti 20 aktivis dan pemerhati syariah dan HAM itu berlangsung selama dua hari.

Wakil Direktur PPS UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, MSi, menjelaskan, acara ini merupakan tindak lanjut dari kerjasamanya dengan Oslo Coalition for Human Right. Tujuan kegiatan ini adalah merumuskan pemikiran dan kegiatan-kegiatan bersama di waktu-waktu mendatang. “Insya Allah, akan ditindak lanjuti dengan penyusunan kurikulum HAM untuk shotcourse. Pertengahan Juni nanti juga akan ditindaklanjuti dengan expert conference ,” terang Syamsul.

Namun demikian, direktur Oslo Coalition, Prof. Tore Lindholm, menekankan shortcourse itu nantinya   harus didasarkan pada kesadaran kebutuhan, bukan merupakan paksaan. “Saya khawatir jika itu dianggap sebagai ancaman bagi otoritas pengajaran,” kata Tore.

Narasumber workshop, Masdar Hilmy, PhD, menyatakan ada tiga model desain pendidikan yang diajukan. Pertama,limited model. Model ini hanya diterapkan pada level S2 yakni pada prodi syariah bukan pada level yang lain. Kelebihannya terletak pada fokus sehingga bisa langsung to thepoint, efektif dan efisien. Kedua, Inclusive model. Model ini diarahkan pada semua mahasiswa semua level dan dimasukkan pada MKDU. “Ketiga,Comprehensive model. Model ini bersifat mencakup semua maksudnya, seluruh materi mata kuliah yang diajarkan harus merefleksikan nilai-nilai HAM,” kata Masdar. Selain Masdar, pembicara lainnya, Prof. Armada Rianto juga sepakat dengan model ini.

            Lebih lanjut, desain pendidikan HAM, dimulai dengan pengalaman bukan pengetahuan semata. Untuk itu literatur dari berbagai bahasa harus dikaji. Selain itu, posisi syariah dan HAM adalah saling menguntungkan, bukan satu pihak subordinat dari yang lain. “Nantinya, dosen pendidikan ini harus berasal dari multidisiplin ilmu,” lanjut Syamsul.

Sementara itu, expert conference rencananya akan menghadirkan pakar dari berbagai negara. Pakar dalam negeri yang dinominasikan sebagai nara sumber antara lain, Syafi’i Ma’arif, Azyumardi Azra, Amin Abdullah, Siti Musdah Mulia, Nazaruddin Umar, Husein Muhammad, Thamrin Amal Tamagola, Muktiono, Jimly Assidiqy dan Muhammad Husein Amali. “Mereka adalah pakar yang memiliki kompetensi keilmuan yang berfokus pada tiga hal, yakni ahli hukum Islam dan syariah, ahli HAM internasional dan ahli dunia Islam kontemporer Indonesia,” lanjut Syamsul.

Hasil dari expert meeting itulah nantinya yang akan dijadikan pedoman kurikulum shortcourse tahun berikutnya. “Jadi materinya memang betul-betul kita persiapkan secara matang,” pungkas Syamsul. Peserta shorcourse akan memperoleh sertifikat dari UMM dan Oslo Coalition. (trs/nas)


Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terpopuler

Agenda

  Berita Utama