Indonesia | English | Arabic
Selasa, 02 September 2014
Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> Rendra Kresna, Alumi FE UMM itu Kini Bupati Malang

Berita

Rendra Kresna, Alumi FE UMM itu Kini Bupati Malang
» Jum'at, 22 Oktober 2010 | 17:31 WIB | Dibaca: 4646
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-umm-1655.html  berita_umm_1655.pdf  berita_umm_1655.doc umm-news-1655-id.ps

Pengantar:

Website UMM segera menampilkan rubrik Profil Alumni. Beberapa alumni yang sudah didata, akan diwawancarai secara khusus, baik secara langsung maupun melalui telepon atau e-mail. Secara bertahap profil alumni itu akan dimuat agar menjadi inspirasi bagi mahasiswa UMM dan masyarakat umum. Siapapun yang memiliki informasi mengenai alumni UMM, silakan mengirimkannya ke humas@umm.ac.id. Catatan berikut merupakan potongan dari profil tentang Bupati Malang, Rendra Kresna. Ini merupakan awal untuk memulai profil-profil sukses alumni UMM lainnya. (Redaksi/ humas UMM)

 

Rendra Kresna
Rendra Kresna alumni UMM tahun 1989.

 

Selasa, (26/10) akan menjadi hari istimewa untuk Rendra Kresna. Bagaimana tidak, suami dari Hj. Jajuk Sulistyawati ini akan naik tahta, dari Wakil Bupati menjadi Bupati Malang. Ya, Rendra adalah bupati Malang terpilih periode 2010-2015 yang segera dilantik pada hari itu. Naiknya Rendra tentu menjadi kabar baik bagi civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dia adalah lulusan Fakultas Ekonomi (FE) tahun 1989.

Saat ditemui di ruangan Wakil Bupati Malang, Jumat (22/10), lelaki kelahiran Pamekasan, 22 maret 1962 ini berbagi cerita saat kuliah di Kampus Putih. Perjalanannya hingga menjadi Bupati tidak semulus yang dibayangkan, bahkan menurutnya bukan menjadi seorang Kepala Daerah yang dicita-citakan, melainkan menduduki kursi legislatif.

“Saya memang tertarik pada dunia politik, tetapi bukan sebagai eksekutif, tetapi legislatif. Sebab, aktivitas keorganisasian saya rasanya lebih klop menjadi legislatif,” kata ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jawa Timur ini.

                Saat kuliah di UMM, Rendra masih bekerja di Kebon Agung. Dari rumahnya di Sawojajar, perlu tiga kali oper angkutan untuk mencapai tempatnya bekerja, sehingga gajinya habis untuk transportasi saja. Muncul ide, Rendra membeli sepeda pancal. Sepeda itulah yang menemani Rendra selama setahun sampai mampu membeli sepeda motor. Meski demikian, Rendra terbilang mahasiswa yang rajin. Sebagai mahasiswa tranferan dari diploma 3 ke jenjang S1, ternyata masih harus mengulang beberapa mata kuliah yang sudah pernah ditempuhnya di sebuah perguaruan tinggi di Surabaya. “Saya jalani saja wong memang harus mengulang,” terangnya.

                Pembantu Rektor II, Drs. Mursidi, MM, membenarkan hal itu. Rendra menurutnya merupakan mahasiswa yang rajin walaupun kuliah ditempuhnya sambil kerja dan bergelut di organisasi. Mursidi yang waktu itu menjabat sebagai sekretaris jurusan Manajemen juga cukup kenal dengan sosok Rendra. “Dia termasuk mahasiswa yang rajin,” kata Mursidi.

                Ada kesan mendalam ketika Rendra menempuh Ujian Negara Cicilan (UNC). Waktu itu dia sedang sakit, sementara lokasi ujian ada di gedung SMA Muhammadiyah yang tidak dilewati angkutan kota. Rendra sempat sempoyongan ketika berjalan sejauh sekitar 500 meter ke lokasi ujian. Sampai di kelas, Rendra tak lagi bisa konsentrasi.

“Jadi saya jawab saja semampunya. Saya tidak yakin itu benar. Itulah sebabnya di lembar jawaban saya kasih tulisan bismillah dan di bawahnya saya tulis ‘mohon maaf jawaban saya kurang memuaskan karena saya sedang sakit’.” kata bapak empat anak ini bercerita. Awalnya dia tidak menyangka bisa lulus, malah dapat nilai B. Dia yakin itu pasti berkat curhatnya di lembar jawaban tadi, dosennya merasa pasti kasihan.

Ketua SOKSI Jawa Timur ini mengaku sangat beruntung ketika skripsinya dibimbing oleh orang-orang penting di UMM. Tiga pembimbing semuanya pejabat teras. Mereka adalah rektor, Malik Fadjar, dekan FE Tanthowi dan sekretaris fakultas Ratih Juliati. “Saya sangat terkesan karena skripsi saya ditandatangani orang yang akhrinya menjadi menteri di negeri ini,” katanya bangga.

Kebanggaan Rendra pada UMM ditunjukkan hingga saat ini. Di berbagai kesempatan, Rendra selalu menyebut Malik Fadjar sebagai panutannya. Itulah sebabnya dia memilihkan kampus untuk putra pertamanya Kresna Dewanata Phroksakh juga di UMM. Dewa, panggilan putra sulung itu mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) di UMM. “Saya bilang ke anak saya, ayah saja bisa jadi seperti sekarang walau kuliah di kampus yang waktu itu masih kecil. Apalagi sekarang, kampus UMM sudah besar, ternama, bahasa Inggrismupun bagus, pasti kamu bisa lebih baik daripada ayah,” katanya sembari berharap anaknya nanti menjadi diplomat.

Rendra mengakui UMM besar seperti saat ini tak lepas dari pengelolaan yang amanah. “Perkembangan UMM saat ini bukan hanya atas kebesaran nama organisasi Muhammadiyah, melainkan kegigihan UMM dalam mengelola amanah. Saya yakin, UMM tidak menyoalkan apa yang diperoleh, namun apa yang akan dan telah diberikan UMM,ungkapnya.

“Di UMM saya dicetak betapa pentingnya menuntut ilmu, dan disitu saya juga bisa mengenal banyak orang penting, lanjut Rendra tentang peran UMM bagi dirinya. Untuk itu dia berpesan kepada generasi sekarang agar tidak hanya menimba ilmu di kampus. Ilmu-ilmu lainnya bisa diperoleh dari organisasi. “Berorganisasi bisa memupuk jiwa kepemimpinan dan manajerial. Sekarang ini tidak ada pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian kepemimpinan,” katanya berpesan. (trs/rka/nas)


Comment:


Add New Comment:


Nama: *
E-mail: *


Website:


Komentar: *

characters left


Enter the phrase *

Berita Terpopuler

Terkomentari

    Agenda