Dalam sehari, Minggu (16/5), Rektor UMM, Dr. Muhadjir Effendy, MAP, berkunjung ke dua daerah Muhammadiyah, yakni di Mojokerto dan Gresik. Sebagai Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Muhadjir memang sring memanfaatkan hari libur untuk terjun ke bawah dan berdialog langsung dengan warga Muhammadiyah.
Di Mojokerto, Muhadjir memberi ceramah pengajian dihadapan ratusan warga Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah Mojokerto. Sedangkan di Gresik, Muhadjir didapuk memberi orasi wisuda SMA Muhammadiyah I Gresik.
Dalam ceramahnya di Mojokerto, Muhadjir kembali mengungkap persoalan bunga bank yang dipermasalahkan di Munas Tarjih Muhammadiyah di UMM beberapa waktu lalu. Persoalan ini dinilai penting karena menyangkut kehidupan sebagian warga Muhammadiyah.
“Pengelolaan bank memang seharusnya secara syar’i. Namun sebatas mana syar’i itu, apakah praktik bank konvensional saat ini tidak syar’i dan apakah bank syariah sudah cukup syar’i, perlu dikaji lagi,” ungkap Muhadjir.
Riba dan bunga bank, menurut Muhadjir adalah dua hal yang berbeda. Jika bunga bank dianggap sebagai instrumen pembagi manfaat dan dibagi secara adil dan tidak memberatkan, serta sesuatu yang sulit dihindarkan, maka belum tentu itu riba. “Sedapat mungkin riba kita hindari, tetapi jika tidak bisa menghindari bunga bank, maka harus proporsional, adil dan disepakati,” terangnya.
Di SMAM I Gresik, Muhadjir banyak memberi motivasi kepada lulusan baru. Sekolah favorit di Gresik itu kini menuju menjadi RSBI, sehingga cukup diperhitungkan. Murid-muridnya cerdas dan inovatif, bahkan ada yang mahir berbahasa Jepang.
“Jangan mudah bangga dengan keberhasilan memperoleh PMDK di PTN atau dimanapun. Yang lebih penting adalah ke depannya harus lebih maju lagi. Bagi yang tidak masuk melalui jalur PMDK, masih banyak jalan yang bisa ditempuh menuju keberhasilan,” kata Muhadjir.
SMAM I Gresik tahun ini meluluskan 100% siswanya. Atas berbagai prestasi itu, sekolah ini memperoleh hibah sebesar Rp. 500 juta dari pemerintah. (zpd/nas)