Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> PPs UMM Bahas Mainstreaming Multikulturalisme
Berita
PPs UMM Bahas Mainstreaming Multikulturalisme
» Senin, 17 Mei 2010 | 11:16 WIB | Dibaca: 1543
Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D mengatakan visi Kementrian Agama Republik Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas dan mandiri.
Demikian salah satu point Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertemakan Pengarusutamaan (Mainstreaming) Multikulturalisme untuk Mengembangkan Toleransi dan Kerjasama Antar Umat Beragama di Indonesia yang diadakan Pusat Studi Agama & Multikulturalisme Program Pasca Sarjana UMM bekerjasama dengan Balitbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Senin hingga selasa (3-4/5), di Hall UMM Inn. Semiloka ini diikuti oleh kurang lebih seratus peserta dari berbagai lembaga keagamaan. di Jawa Timur.
Kepala Balitbang Kementrian Agama, Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D, mengatakan visi Kementrian Agama Republik Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang taat beragama, rukun, cerdas dan mandiri. Untuk itulah salah satu misi dari Kementrian Agama ialah meningkatkan kualitas kerukunan antar agama dalam keberagaman yang ada saat ini.
Mas’ud juga mengatakan, faktor-faktor yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama antara lain dapat ditinjau dari segi non-keagamaan dan dari segi keagamaan. Dari segi non-keagamaan, faktor-faktornya adalah adanya kesenjangan ekonomi, kepentingan politik dan konflik sosial dan budaya. “Sedangkan dari segi keagamaan, faktor-faktor yang terdapat didalamnya adalah adanya penyiaran agama, bantuan keagamaan luar negeri, perkaminan antar pemeluk agama yang berbeda, pengangkatan anak, dan pendidikan agama,” kata Mas’ud.
Para pakar setuju bahwa pengarusutamaan (mainstreaming) multikulturalisme dinilai penting untuk mengatasi gangguan-gangguan kerukunan umat beragama yang disebabkan oleh faktor-faktor di atas. Wakil Direktur Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin M. Si, yang juga menjadi pembicara dalam Semiloka ini menilai bahwa yang perlu dilakukan lebih awal ialah menanamkan konstruk yang lebih bersimpati dan berempati terhadap keberadaan agama lain melalui dunia pendidikan. “Institusi pendidikan multikultural memiliki posisi strategis dalam menyemai sikap yang lebih terbuka terhadap kelompok lain. Melalui persemaian ini maka dengan sendirinya modal sosial akan terbentuk,” terang Syamsul.
Selain pembicara diatas, pada sesi ketiga Prof. Dr Tobroni, M.Si., Kaprodi Magister Ilmu Agama Islam Program Pascasarjana UMM membawakan materi mengenai Multikulturalisme dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia pada Era Reformasi. Hadir pula sebagai pembicara, Pradana Boy ZTF., MA yang mengungkap Akar-akar Multikulturalisme dalam Islam.
Boy mengungkapkan bahwa prinsip multikulturalisme dalam Islam sudah secara nyata ditanamkan sejak awal agama ini dibawa oleh Nabi Muhammad. Seperti pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Yastib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah al-Munawwarah. Peristiwa ini menggambarkan Nabi Muhammad menanamkan tali persaudaraan dalam hati setiap muslim, juga menata hati setiap manusia dari latar belakang yang berbeda-beda. “Hal semacam ini merupakan tauladan yang sangat penting untuk kita jalankan sampai sekarang, di era globalisasi yang juga penuh keragaman,” contoh Boy. (trs/nas)