Anda di : UMM >> Berita >> UMM Berita >> FE UMM Perpanjang Kerjasama dengan BEI
Berita
FE UMM Perpanjang Kerjasama dengan BEI
» Sabtu, 06 Maret 2010 | 11:58 WIB | Dibaca: 1455
Dekan FE, Dr Nazarudin Malik M.Si berjabat tangan Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyawati MBA seusai penandatangan
Fakultas Ekonomi (FE) UMM memperpanjang kontrak kerjasama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dekan FE, Dr Nazarudin Malik M.Si bergandeng tangan dengan Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyawati MBA dan Presiden Direktur Reliance Securities, Orias Petrus Moedak untuk melanjutkan kontrak hingga tiga tahun ke depan. Penandatananan kontrak berlangsung Kamis, (4/3). Pojok BEI UMM secara resmi berdiri sejak masih bernama Pojok Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 2004.
Nazarudin menyatakan fungsionalisasi dan perpanjangan kerjasama akan menambah pengalaman akademik yang tak terlupa bagi mahasiswa. Pengembangan mahasiswa bukan lagi dikembangkan di segi akademik saja, namun bagaimana mempersiapkan mahasiswa siap terjun ke masyarakat saat lulus. “Suasana pembelajaran kondusif, serta fasilitas yang memadai seperti BEI akan memperkuat atmosfir akademik yang dibangun UMM,” ungkapnya.
Usai penandatanganan MOU acara dilanjutkan dengan Seminar Capital Market Outlook 2010. Frederica dan Orias mengemukakan tema “Prospek Pasar Modal Pasca Krisis Keuangan Global” dan “Strategi Investasi dan Peluang Karir di Pasar Modal”.
Frederica menyatakan, pasar modal di Indonesia memiliki peluang yang besar terutama sebagai investasi jangka panjang, namun tidak banyak yang melirik dunia ini. Menurut wanita asal Malang ini, masyarakat kurang terbuka dengan pasar modal, mereka lebih memikirkan resiko dibandingkan keuntungan. Padahal bila mau belajar maka keuntungan yang diperoleh besar.
Pada dasarnya semua pilihan investasi mengandung peluang keuntungan dan kerugian atau resiko lain. Wanita yang menyelesaikan studi S-2 di Amerika ini mencontohkan, tabungan atau deposito memiliki keuntungan/ bunga kecil. Investasi emas memiliki resiko tinggi harga turun, sedangkan wiraswasta memiliki resiko pailit/bangkrut. Untuk saham pemodal memungkinkan memperoleh capital gain, atau keuntungan dari hasil jaul beli saham, berupa kelebihan nilai jual dari nilai beli saham. Gampangnya, bila beli 2.000, jual 2.500 maka pemodal memiliki gain sebesar 500. “Meski keuntungan yang diperoleh lumayan besar, namun pemodal harus selalu jeli memantau pergerakan harga saham, sedetik saja lengah maka bisa berbahaya. High return juga high risk, tidak ada harga patokan pasar,”ungkapnya.
Mahasiswa sangat berpotensi untuk sukses di pasar modal, salah satunya menjadi Perantara Pedagang Efek (PPE). PPE harus mampu mengeksekusi pesanan secara akurat serta menyediakan informasi terkini kepada para nasabah. “Dimalang saja, jumlah PPE yang dibutuhkan sangat kurang, padahal pergerakan investasi semakin meningkat,”ungkapnya.
“Perkembangan dunia investasi di Indonesia sangat tinggi, bila dibanding dengan negara lain, investor lokal yang terjun dipasar modal Indonesia hanya mencapai 0,7%. Hal ini sangat jauh dibandingkan negara tetangga malaysia yang mencapai 30 %. Padahal transaksi yang terjadi pasar modal mencapai 4 Triliun rupiah/hari. Ini hanya didominasi pemain luar,”pungkasnya. (rka/nas)