Guru Besar Pendidikan Islam Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Tobroni, mengaku pengalamannya sebagai visiting profesor di Universiti Malaya (UM), Malaysia sebagai pengalaman yang sangat berarti. Selama dua semester, sejak awal 2009 lalu, Tobroni menjadi salah satu dosen UMM yang dipercaya memberi kuliah mahasiswa UM, serta melakukan kegiatan-kegiatan akademik lainnya.
Menurutnya, meski secara kualitas Indonesia bisa diandalkan, namun soal sistem dan fasilitas pendidikan kita perlu banyak belajar dari Negeri Jiran itu. Sebagai negara Commonwealth, Malaysia memang lebih banyak berkiblat pada Inggris yang lebih menghargai ilmu dengan tata administrasi yang baik. “Profesor begitu mudah ditemui untuk sekedar berdiskusi, apalagi bimbingan. Sehingga seorang profesor melayani mahasiswa dengan sangat baik bak seorang suhu,” kata Tobroni yang menyebut mata kuliah yang diampunya, antara lain Metode Pengajaran Akidah, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam dan Evaluasi Pendidikan.
. Pengalaman mengajar, seminar, menjadi reviewer riset, menulis untuk jurnal berwasit (terakreditasi) dan menjadi tim riset di Malaysia membuat Tobroni bisa menyelami kelebihan dan kekurangan sistem yang ada di sana. Beberapa kelebihan itu sebenarnya sudah diterapkan oleh UMM. Misalnya dalam hal penelitian, dosen tak perlu mengumpulkan laporan tebal, melainkan cukup naskah publikasi untuk jurnal. “Sayang kalau penelitian hanya menumpuk menjadi laporan tanpa dipublikasikan,” ungkap Tobroni.
Satu hal yang ingin sekali diterapkan Tobroni di UMM adalah pengawasan ujian semester. Menurutnya, ujian perlu diperketat karena menyangkut evaluasi pembelajaran dan kualitas mahasiswa. Di Malaya, pengawas masih dibantu oleh volunter yang membagi soal bahkan mengawal mahasisa yang ke toilet. Lembar jawabanpun tidak boleh berpindah tangan dari dosen pengampu. Sehingga, ujian semester tak ubahnya seperti Unas di sini. “Ini penting karena keseriusan mahasiswa harus diuji. Kita sudah memiliki perangkat yang cukup memadahi untuk itu, jadi kita pasti bisa supaya mahasiswa lebih berfikir kompetitif,” terangnya.
Tobroni juga mendukung gagasan rektor untuk membuka prodi Syariah Ekonomi di FAI UMM. Prodi ini berbeda dengan Ekonomi Syariah yang ada di Fakultas Ekonomi. Di FAI, yang ingin dibentuk adalah para expert bidang syari’ah yang akan bekerja sebagai researcher, konsultas atau ulama. “Bukan diarahkan sebagai praktisi perbankan saja, karena justru syariah ekonomi dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar, pemerintah dalam mengambil kebijakan, dan tentu perbankan dan perusahaan asuransi. Mereka perlu konsultan syari’ah,” kata pria kelahiran Blitar ini. Pihaknya siap membangun link dengan UM jika prodi ini betul-betul akan dibuka.
Ke depan, Tobroni berharap program visiting profesor ini diperkuat dengan kerjasama antar lembaga. Sebab, menurutnya, pertuakaran profesor ini akan menambah pengakuan internasional sebuah universitas. (rka/nas)