Steve Jobs, Shakira, dan Arab Miskin

Author : Administrator | Senin, 23 Desember 2013 08:24 WIB | Republika - Sastra
Ikhwanul Kiram Mashuri
 

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri. Dunia tentu mengenal sejumlah sosok berikut: Steve Jobs, Shakira, Carlos Slim Helu, Carlos Menem, dan Sharif Bassouni. Steve Jobs adalah pendiri dan CEO Apple Inc. Ia meninggal dunia di California, AS, dua tahun lalu.  


Shakira penyanyi terkenal dari Kolombia dan kini menetap di AS. Nama Shakira semakin menjulang saat ia membawakan lagu ‘Waka Waka (This Time for Africa)’ pada upacara pembukaan Piala Dunia di Afrika Selatan pada 2010. 

Carlos Slim merupakan pengusaha dari Meksiko dan orang terkaya sejagad versi majalah Forbes. Kekayaannya bersalip-salipan dengan dua taipan dari AS, Bill Gates dan Warren Buffett.  Sedangkan Carlos Menem adalah Presiden Argentina (1989-1999).  

Sementara Syarif Basyouni yang di Amerika ditulis Cherif Bassiouni dikenal sebagai Bapak Hukum Kriminal Dunia Modern. Dialah salah seorang yeng meletakkan dasar-dasar hukum internasional, terutama hukum kriminal. Ia juga sering mengepalai tim penyelidikan PBB untuk kejahatan perang/kriminal dan pelanggaran HAM di berbagai negara. Dari Bosnia, Irak, Libya hingga Bahrain. 

Nama-nama tersebut bukanlah warga asli negara setempat. Mereka adalah kaum imigran atau keturunan imigran dari negara-negara Arab. Menurut Husein Shabaqshy, kolomnis media Al Sharq Al Awsat, para imigran Arab yang kini hidup di luar negeri jumlahnya puluhan juta. 

Pada umumnya mereka melarikan diri untuk menghindari perang, konflik dalam negeri, dan perlakuan represif rezim penguasa. Intinya, mereka tidak lagi nyaman hidup di negeri sendiri lalu memilih hijrah ke luar negeri alias pindah negara.

Steve Jobs misalnya.  Ayahnya adalah Abdul Fattah Al Jandali, 80 tahun, dan kini hidup di Nevada, AS. Al Jandali merupakan imigran dari Arab. Ia lahir di Homs, Suriah. Orangtuanya tuan tanah. Pada usia 18 tahun, Al Jandali pergi ke Beirut untuk belajar di American University. Di ibukota Lebanon itu ia jadi aktivis pergerakan Nasionalisme Arab dan memimpin demonstrasi melawan Presiden Lebanon, Bechara Al Khoury, yang dituduh sebagai antek penjajah. 

Meskipun Al Khoury kemudian mengundurkan diri, situasi politik di Lebanon telah mendorong Al Jandali melarikan diri ke Amerika. Ia kemudian kuliah di Universitas Colombia dan kemudian Universitas Wisconsin hingga memperoleh gelar PhD di bidang ekonomi dan political science. 

Saat kuliah, ia berkenalan dengan mahasiswi Joanne Carol Schieble hingga mempunyai anak yang kemudian dikenal dengan Steve Jobs. Lantaran orangtua Schible menolak hubungan anaknya dengan pemuda Arab, Al Jandali kemudian meninggalkan Schieble dalam kondisi hamil. Nama Steve Jobs diberikan oleh orangtua adopsinya, Paul dan Clara Jobs. 

Sedangkan Shakira yang bernama lengkap Shakira Isabel Mubarak Ripoll merupakan generasi ketiga keluarga imigran Arab di Colombia. Kakek dan neneknya hijrah dari Lebanon untuk menghindari situasi politik yang serba tidak menentu menjelang keruntuhan kekhalifahan Turki Usmani. 

Kakek dan nenek Shakira menetap di New York dan kemudian pindah ke Colombia. Di negara itu Shakira lahir dari orang tua William Mubarak Syadid dan Nidia Ripoll.

Berikutnya adalah Carlos Salim (Slim) Helu, 73. Ia merupakan generasi kedua imigran Lebanon di Meksiko dari orangtua Julian Salim Haddad dan Linda Helu. Ayahnya yang lahir dengan nama Khalil Salim Haddad saat muda melarikan diri ke Meksiko untuk menghindari kekerasan dari pemerintahan Turki Usmani di Lebanon.

Termasuk dari generasi kedua imigran Arab adalah Carlos Munem. Mantan Presiden Argentina ini lahir pada 1930 di sebuah kota di Provinsi La Rioja, Argentina. Kedua orangtua Munem berasal dari Kota Yabrud, barat daya Suriah dan berbatasan dengan Lebanon. Mereka melarikan diri dari Suriah untuk menghindari konflik politik menjelang kejatuhan Turki Usmani.

Sedangkan Mahmud Syarif Basyouni berimigrasi ke AS pada masa Presiden Mesir Jamal Abdul Nasir. Ia meninggalkan Mesir karena menolak bergabung dengan divisi intelejen yang bertugas mengintrogasi dan menyiksa para tahanan politik. Atas bantuan teman-temannya ia kemudian berhasil menyelinap naik kapal laut dari Alexander menuju Italia dan kemudian ke New York, AS.

Husein Shabaqshy menjelaskan, imigrasi Arab ke luar negeri terjadi secara periodik. Periode pertama terjadi menjelang dan setelah runtuhnya Kekhalifahan Usmaniyah. Saat itu, Turki Usmani yang kalah pada Perang Dunia I dijuluki sebagai negara sakit. Kekuasaannya yang luas lalu jadi bancaan Inggris, Prancis, Italia, dan Jerman. Jutaan warga Arab, terutama dari wilayah Syam (Suriah dan Lebanon), yang khawatir dengan kehidupan mereka lalu memilih hijrah ke Eropa dan Amerika.

Periode hijrah berikutnya adalah ketika berdiri negara Israel di wilayah Palestina. Khawatir atas pembantaian oleh Zeonis Israel, jutaan warga Palestina kemudian meninggalkan negaranya. 

Gelombang imigrasi Arab ini berlanjut ketika Presiden Mesir, Jamal Abdul Nasir, yang berhaluan sosialis menasionalisasikan perusahaan-perusahaan swasta. Ribuan orang kaya Mesir kabur ke luar negeri dan kemudian menetap di Amerika dan Eropa. 

Perang saudara di Lebonon yang berlangsung sekitar 22 tahun juga telah mengakibatkan gelombang hijrah besar-besaran warga Lebanon. Kini jumlah imigran Lebanon bahkan lebih besar dari penduduk yang tinggal di dalam negeri. Sebagian besar mereka menetap di Brasil, Argentina, Kanada, Kolombia, Australia, Prancis, Inggirs, Veneuzela, dan AS. Jumlah keturunan Lebanon di luar negeri mencapai 16 juta orang, sementara penduduk Lebanon kurang dari 4 juta orang.

Perang Iran-Irak dan kemudian aneksasi Irak (Saddam Husein) ke Kuwait juga telah menyebabkan sejumlah warga Arab meninggalkan negaranya. Namun, gelombang imigrasi Arab yang paling mengerikan justru terjadi dalam beberapa tahun ini. Yakni tahun-tahun munculnya apa yang disebut Al Rabi' Al Araby atau Musim Semi Arab.

Sayangnya, Musim Semi yang diharapkan membawa perbaikan kepada kehidupan rakyat itu tidak terjadi. Jauh panggang dari api. Tunisia, Mesir, Libia, dan Yaman terus bergolak. Sementara konflik di Suriah juga terus memakan korban. Begitu juga di Irak. Yang menjadi korban adalah puluhan juta rakyat. 

Pertikaian politik dan perebutan kekuasaan telah membuat rakya sengsara. Akibatnya jutaan rakyat miskin kini dalam daftar tunggu untuk meninggalkan negaranya. 

Namun, berbeda dengan gelombang imigrasi Arab sebelumnya yang pada umumnya adalah orang kaya dan aktivis politik, kini mereka yang ingin meninggalkan negaranya adalah orang-orang miskin yang rentan terhadap bujuk rayu mafia internasional. Akibatnya, banyak di antara mereka yang kemudian menjadi korban keganasan air laut dan tandusnya padang pasir Afrika. Banyak di antara mereka yang kemudian tewas mengenaskan sebelum mencapai negara impian.

Ya, inilah ironi negara-negara Arab. Negara-negara yang dikenal kaya raya, namun rakyatnya sengsara akibat kerakusan penguasa.  Para Arab miskin itu boro-boro bermimpin menjadi Steve Jobs, Shakira, Carlos Salim, Carlos Munen atau Sharif Bassouni,  bisa selamat di negara tujuan pun sudah untung. 

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/12/22/my7qo2-steve-jobs-shakira-dan-arab-miskin
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1