Budaya Indonesia akan 'Meracuni' Novel Penulis Asing

Author : Administrator | Kamis, 03 November 2016 | - Sastra

M. Andika Putra, CNN Indonesia

Indonesia berharap masuk di dalam novel asing (ilustrasi). (Dok. Ubud Writers & Readers Festival/Anggara Mahendra)

 

Jakarta, CNN Indonesia -- Budaya Indonesia akan ‘meracuni’ karya-karya penulis asing. Itu bisa dihasilkan melalui cara baru yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengampanyekan kebudayaan negeri dengan 34 propinsi ini.

Kepala Subdirektorat Diplomasi Budaya Dalam Negeri Kemendikbud Restu Gunawan mengatakan di Jakarta beberapa waktu lalu, pihaknya akan mengundang penulis asing untuk menjajal budaya Indonesia. Diharapkan, mereka bisa mengampanyekan budaya Indonesia lewat tulisannya.

Penulis yang kini diundang adalah Amitav Ghosh. Ia merupakan penulis berdarah India-Amerika yang memang gemar menulis tentang sejarah dan budaya. Dalam tulisan-tulisannya, Ghosh sering menceritakan tempat-tempat yang pernah ia kunjungi.

Dalam novel bertajuk In an Antique Land (1992) misalnya, Ghosh bercerita tentang Mesir. Demikian pula The Imam and The Indian (2002). Dancing in Cambodia and at Large in Burma (1998) jelas menyuguhkan pesona Kamboja serta Myanmar, dua negara di Asia Tenggara.

Diharapkan, Indonesia juga akan hadir di salah satu novel penulis ternama itu.

"Buku pak Amitav sudah dikenal. Ia merupakan salah satu novelis internasional yang terkenal," kata Restu. “"Kami ajak melihat situasi dan kekayaan budaya Indonesia. Supaya kekayaan budaya Indonesia diangkat dalam penulisan novel. Novel kan [jangkauannya] luas.”

Perjalanan Ghosh keliling Indonesia dimulai dari Ternate, Tidore, Ambon dan Banda. Di sana, kata Restu, Ghosh akan bertemu tokok masyarakat untuk bahan tulisan.

Restu sendiri belum tahu Ghosh akan menulis Indonesia dari segi apa. Tetapi Ghosh menyatakan tertarik pada rempah-rempah dan maritim Indonesia. Ia bahkan meminta perjalanan dari Jakarta menuju Ternate dilakukan dengan kapal. Tapi permintaan itu tidak dikabulkan.

Alasannya, itu akan memakan waktu yang sangat lama. 

Baru beberapa hari di Indonesia, Ghosh sebenarnya sudah merasa tertarik. Ia merasa nyaman di Indoesia. Kebudayaannya kaya dan menarik. Ia sebenarnya sudah pernah menginjakkan kaki di Indonesia pada 1996. Sejak itu ia melihat perbedaan di Indonesia dari banyak sektor.

Amitav Ghosh, penulis berdarah India-Amerika yang diundang untuk keliling Indonesia.
Foto: CNN Indonesia/M Andika Putra
Amitav Ghosh, penulis berdarah India-Amerika yang diundang untuk keliling Indonesia.

"Saya akan menulis artikel tentang kunjungan saya ke sini. Artikel [itu mungkin] tentang Pulau Maluku yang akan saya kunjungi nanti," kata Ghosh kepada CNNIndonesia.com.

Mengundang penulis seperti itu, diakui Restu tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Mendatangkan dan mengajak Ghosh berjalan-jalan Kemendikbud mengeluarkan sekitar Rp100 juta. Itu sudah termasuk biaya transportasi, akomodasi, dan kebutuhan operasional tamu.

Ini merupakan cara baru pemerintah, setelah selama ini banyak promosi budaya Indonesia dengan menyodorkan bola. Biasanya, penulis lokal yang didatangkan ke festival-festival internasional bisa sekaligus menjadi ‘duta’ budaya. Kini, strateginya kebalikannya.

“Orang asing kami ajak ke sini untuk melihat Indonesia dan mempromosikan," kata Restu.

Tak hanya mengundang penulis, Kemendikbud juga berencana untuk mendatangkan jurnalis asing ke Indonesia. Tentu mereka diminta menulis tentang kebudayaan Indonesia. Upaya semacam itu akan menjadi agenda rutin Kemendikbud. Tahun depan, akan ada penulis lain yang diundang. (rsa)

Sumber: http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20161102151931-241-169699/budaya-indonesia-akan-meracuni-novel-penulis-asing/
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1