Fidelys Lolobua: Pengorbanan yang Berbuah Manis di Asian Games

Author : Administrator | Selasa, 21 Oktober 2014 09:51 WIB | Detik News - Lain-lain
AFP/Roslan Rahman

Jakarta - Pertama kali tampil di Asian Games, Fidelys Lolobua berhasil menyumbang medali untuk Indonesia. Padahal, selama pelatnas ia harus berkorban dengan biaya sendiri.

Fidel adalah satu-satunya atlet peraih medali untuk Indonesia dari cabang olahraga karate, di nomor kata putra, pada perhelatan olahraga se-Asia di Incheon, Korea Selatan, tersebut.

Pada pertandingan final melawan atlet Malaysia, Chee Wei Lim, Fidel hanya diunggullkan oleh dua juri, sedangkan tiga lainnya memenangkan Chee. Ia pun kalah 2-3.

Meski hanya perak, tapi bagi Fidel itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat baik, mengingat ia baru pertama kali tampil di ajang sekelas Asian Games.

"Medali ini adalah medali cita-cita saya. Karena sebelum saya masuk tim Asian Games dari awal sudah menargetkan, minimal prestasi saya setara dengan pelatih saya (Omita Olga Ompi), yakni meraih medali perak di Asian Games pertama. Rupanya cita-cita saya tercapai," ucap Fidel dalam perbincangan dengan detiksport beberapa waktu lalu.

Bukan tanpa alasan‎ Fidel memiliki target seperti itu. Maklum, sejak awal persiapan pelatnas Asian Games Fidel bukanlah  atlet yang diperhitungkan untuk masuk skuat inti. Justru rekannya, Faisal Zainuddin, yang lebih diandalkan di nomor kata.

Beruntung, meski pelatnas karate terus berlangsung. PB FORKI justru semakin gencar melakukan proses seleksi. Premier League di Jakarta‎ pada Juni lalu menjadi titik balik dari seorang Fidel.

Ia berhasil membuktikan diri dengan meraih jawara tiga saat Premier League, dan berujung pada terpilihnya dia masuk tim nasional karate menggantikan Faisal yang saat itu tidak meraih apa-apa.

Ironisnya, perjuangan Fidel masuk timnas justru tidak sampai diproses seleksi itu. Ia kembali diuji ketika harus menggunakan biaya pribadi untuk bisa terbang ke Jakarta untuk melakoni latihan terpusat  bersama rekan-rekan karateka lainnya.

"‎Selama ini pihak-pihak terkait tidak ada respons yang baik. Dari mulai keberangkatan dari Makassar-Jakarta, begitu juga saat pulang, tiket itu biaya sendiri. Padahal kami ini punya pengurus pusat dan daerah, tapi hal-hal sepele seperti ini masih juga dibebankan kepada atlet," bebernya.

Diakuinya sempat ada rasa kecewa. Namun tekad yang bulat bisa mengantarkan pria asal Bau-bau, Sulawesi Tenggara, itu sampai di Jakarta. Tiga bulan menjalani latihan itu pun tak lantas berjalan mulus. Ia harus kembali mengeluarkan uang pribadi demi memenuhi kebutuhan pribadinya. Seperti membeli vitamin dan suplemen ‎untuk kebutuhan fisiknya.

"Yang ada di dalam pikiran saya saat itu, bagaimana dengan waktu tiga bulan saya bisa mengejar kondisi yang terbaik. Ya mau tidak mau harus beli suplemen sendiri. Dukungan dari pusat juga tidak ada. Padahal ini level Asian Games lho, hampir setara dengan Olimpiade," cetusnya.

Beruntung, di tengah kesulitan yang ia hadapi Fidel justru tak sendiri. Pelatihnya, Omita Olga Ompi selalu mendukungnya dari balik layar. Omita juga yang akhirnya turun tangan memenuhi kebutuhan Fidel saat harus dipaksa beradaptasi dengan kondisi pertandingan di Incheon bisa terlaksana.

Dengan ide cerdik, Omita mencari tempat latihan di kawasan pusat perbelanjaan di Senayan.

"Tahu sendiri tempat latihan saya  itu terbuka. Sementara untuk bisa berhasil minimal saya harus beradaptasi dulu dengan situasi yang sama ketika latihan dan bertanding.

"Di sinilah peran pelatih saya (Omita) yang tak pernah putus mendukung saya. Dia cari tempat latihan ber-AC (Air Conditioner), setelah dapat kemudian dia sewa tempatnya dengan menggunakan dana pribadi," bebernya.

Begitu saat pertandingan dimulai. Omita juga tak berhenti berada di belakang Fidel untuk mendukung atletnya tersebut. Maklum. Fidel yang terbiasa turun di nomor kata beregu suka grogi ketika harus berjuang sendiri di tengah lapangan.

"Pada saat breefing saya bilang kepada pelatih supaya kalau saya bertanding teriak saja dan jangan diam. Saya ini basic-nya beregu, kalau dibiarkan sendiri saya bisa grogi," ujarnya.

Di lain sisi, dirinya juga meminta pelatih lain itu untuk mensterilkan keadaan agar jika ada pengurus atau media yang mau ajak bicara sebelum bertanding, jangan diberikan.

"Ini bukan sombong, tapi saya memang perlu fokus dan butuh yang namanya kosentrasi tinggi. Karena saya tipe yang mudah buyar, dan ini pernah terjadi beberapa kali ketika pengurus datang melihat di sela-sela latihan. Konsentrasi saya buyar."

"Makanya saya puji syukur sekali dengan waktu latihan yang sangat singkat tapi hasilnya sangat luar biasa sekali. Ini buah kerja keras saya, komunikasi yang intens dengan pelatih, dan keluarga yang terus mendukung saya. Hingga akhirnya segala apa yang saya cita-citakan bisa tercapai," tuturnya.

Sumber: http://sport.detik.com/read/2014/10/21/090845/2725062/82/1/fidelys-lolobua-pengorbanan-yang-berbuah-manis-di-asian-games
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1