BWF Berusaha Menaikkan Gengsi Bulu Tangkis

Author : Administrator | Senin, 20 Maret 2017 00:00 WIB | Kompas - Badminton

Olahraga

Pemain tunggal putri Tiongkok, Zhao Yunlei (kiri), pemain tunggal putra Denmark Viktor Axelsen (tengah), dan pemain tunggal putra Malaysia Lee Chong Wei saat jumpa pers BCA Indonesia Open Super Series Premier 2016 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (29/5/2016). BCA Indonesia Open Super Series Premier 2016 akan digelar di Istora Senayan Jakarta 30 Mei - 5 Juni mendatang.

JAKARTA, Kompas.com - Turnamen bulu tangkis BCA Indonesia Open masuk dalam turnamen level 2 bersama dua turnamen lainnya dalam kalender BWF.

Badminton World Federation (BWF) hari ini mengumumkan struktur baru dalam penyelenggaraan turnamen internasional. Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah turnamen level dua yang diperebutkan banyak negara seperti Denmark dan Malaysia.

Kejuaraan level dua merupakan kejuaraan terbuka paling bergengsi yang levelnya hanya satu tingkat dibawah olimpiade, kejuaraan dunia dan super series finals.

Hanya tiga negara yang dinobatkan sebagai tuan rumah kejuaraan level dua untuk periode 2018-2021 ini.  Selain Indonesia, Tiongkok yang juga salah satu negara raksasa bulutangkis dunia, berhak atas kejuaraan level dua. Begitu pun Inggris dengan kejuaraan All England yang punya prestise tersendiri.

Keputusan ini diumumkan BWF lewat hasil rapat bersama Council Member pada hari ini, Minggu (19/3) di Hilton Garden, Kuala Lumpur, Malaysia.

“BWF telah memutuskan Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan level 2, karena dinilai dari penyelenggaraan BCA Indonesia Open sebelumnya yang dijadikan sebagai barometer bagi negara-negara lain,” tutur Bambang Roedyanto, Kasubid Hubungan Internasional PP PBSI.

“Kita dinilai kreatif dalam mengemas BCA Indonesia Open, hospitality-nya juga bagus, antusiasme penontonnya luar biasa. Ditambah lagi pertimbangan ada renovasi Istora, semakin menambah nilai kejuaraan ini untuk kedepannya. Rencananya total hadiah kejuaraan senilai 1,25 juta dollar AS,” sambungnya.

“Kalau All England memang dinilai BWF juga layak masuk level dua, karena selain turnamen tertua, penontonnya juga makin ramai. Sedangkan Tiongkok punya sponsor yang banyak,” tambah Rudy.

Ditambahkan Rudy, ketentuan poin kejuaraan dan persyaratan peserta kejuaraan masih didiskusikan BWF bersama Council Member.

Menurut Presiden BWF, Poul-Erik Hoyer Larsen, perubahan-perubahan drastis harus dilakukan agar bulu tangkis tidak menjadi olah raga yang ketinggalan jaman.

"Tujuan utama kami adalah mengangkat olah raga ini ke jenjang yang lebih kompetitif, meningkatkan peliputan televisi untuk olah raga ini dan meningkatkan kualitas dan popularitas para pemain utama," ungkap peraih medali emas Olimpiade 1996 ini.

Selama ini, bulu tangkis telah berusaha melakukan perubahan untuk membuat olah raga ini semakin menarik. Usulan perubahan antara lain dengan mewajibkan para pemain puteri mengenakan rok, ketimbang mengenakan celana pendek. Namun usulan pada 2012 ini ditolak.

Perubahan yang diusulkan juga menyangkut pada perubahan sistem skor,  kok dan warna lapangan.

Berikut daftar negara penyelenggara kejuaraan internasional BWF periode 2018 – 2021:
Level 1 (Prize money minimal 1,5 juta dollar AS – khusus super series final)
Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Super Series Finals

Level 2 (Prize money minimal satu juta US Dollar)
Indonesia, Tiongkok, Inggris (All England)

Level 3 (Prize money minimal 700 ribu dollar AS)
Tiongkok, Denmark, Perancis, Jepang dan Malaysia

Level 4 (Prize money minimal 350 ribu dollar AS)
Indonesia, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, India

Level 5
Thailand, Taiwan, India, Korea, Makau, Australia, Selandia Baru, Jerman, Spanyol, Swiss dan Amerika Serikat

Level 6
Kategori terbuka. Semua anggota BWF dapat mengajukan permintaan.

Editor : Tjahjo Sasongko
Sumber: http://olahraga.kompas.com/read/2017/03/20/08472321/bwf.berusaha.menaikkan.gengsi.bulu.tangkis
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image