Said Tuhuleley: Sampai Hari Ini Reformasi Belum Sejahterakan Rakyat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 29 Maret 2012 18:00 WIB

 

Yogyakarta- Pasca reformasi yang terjadi pada tahun 1998, belum ada dampak yang signifikan terhadap kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, hal tersebut ditambah dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang justru hanya menambah derita rakyat miskin di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam sambutannya pada acara Diskusi Publik: Menata Ulang Indonesia yang bertempat di gedung PP Muhammadiyah, Jl. Cik Di Tiro No.23, Yogyakarta, Kamis (29/03/2012). Dalam acara yang dihadiri 300an orang tersebut, hadir sebagai narasumber adalah Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) Busyro Muqoddas, dan dan pengamat ekonomi asal UGM Revrosond Baswir, dengan keynote speech mantan ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif. Pada kesempatan tersebut Said Tuhuleley yang terkenal dengan slogan selama rakyat masih menderita, tidak ada kata istrirahat tersebut mengungkapkan, besarnya sumberdaya baik alam maupun manusia, masih banyak nasib anak bangsa yang menderita di penjuru negeri. “Ada kegaulauan saat melihat dilautan begitu kayanya sumberdaya, di dalam tanah begitu kaya,sawah begitu subur, di gunung begitu kayanya, tapi realitasnya masih banyak orang yang miskin juga, masih banyak orang yang hidup sengsara, jadi semua ini menjadi ironis bagi kita semua, maka timbul pertanyaan, apa yang salah dari republic ini,” ungkapnya.

Sementara itu menurut ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam sambutannya mengungkapkan, pasca reformasi, di Indonesia masih banyak tersisa rezim-rezim lama yang belum bisa dihilangkan sampai hari ini, bahkan para reformis yang hadir pada saat reformasi di tiap zamannya justru mempunyai mental otoriter dan membangun dinasti baru di Negara Indonesia. “Kekuatan lama belum bisa di delete, kaum reformis juga sami mawon dengan rezim sebelumnya, dan membangun dinasti baru di republik ini,” tegasnya. Untuk membangun Indonesia kedepan, masyarakat harus tetap optimis dan harus membangun budaya baru yang bersih dari unsure-unsur budaya lama yang hanya akan memperburuk keadaan Indonesia. 

Shared:
Shared:
1