Dadang Kahmad, Takut Pada Allah Kunci Terhindar dari Korupsi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 26 Maret 2012 13:20 WIB

Bandung – Kini pemberitaan di berbagai media selalu diisi oleh berbagai kasus yang terkait dengan korupsi. Merea pada umumnya para pejabat public atau wakil rakyat. Hitungan juta atau ratusan juta mungkin idak aneh, angkanya kini sudah Milyar-milyar bahkan Triliyun. Karena banyaknya pemberitaan korupsi, hingga kita seolah-olah menganggap korupsi sebagai hal yang tidak asing, bahkan sebagian menyebutnya sebagai budaya. Padahal korupsi adalah penyakit moral yang harus disembuhkan.

 

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad dalam kegiatan Darul Arqom Muhammadiyah yang diikuti perwakilan Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten di Bandung. Menurut Dadang, pada dasarnya kebanyakan koruptor itu tahu agama. Sayangnya, agama yang bagi memreka hanya sebatas kognisi saja. “Perlu internalisasi agama sehingga agama menjadi kepribadian manusia bukan hanya pengetahuan,” katanya.

 

Dalam kondisi dimana pihak eksternal yaitu masyarakat baik kultur maupun struktur tidak memberikan kontrol yang tetat, maka koruptor bebas merajalela. Oleh karena itu, Dadang menyarankan jika kontrol dari luar itu lemah, maka yang harus dilakukan adalah kontrol itu mucul dari dalam diri sendiri, tidak mengandalkan dari luar saja.

 

Yang dimaksud kontrol dari dalam kata Direktur Pascasarjana UIN BGD Bandung ini adalah agama. Agama bagi Dadang harus terintegrasi dalam diri kita, “jadi bukan agama sebagai pengetahuan saja, tetapi harus menjadi perilaku,” jelasnya.

 

Di antara ajaran agama yang paling penting bagi Dadang agar kita terhindari dari korupsi dan penyimpangan moral yang lain adalah takut kepada Allah. “Selain takut kepada Allah kita juga harus selalu ingat mati,” paparnya. Dua hal ini bagi Dadang kalau benar-benar tertanam dalam diri kita, maka kita akan terhindari dari perbuatan korupsi.

 

Secara kelembagaan, Muhammadiyah dan juga Ormas keagamaan lainnya perlu melakukan reorientasi gerakan dakwah dan pendidikan agama. “Jadi Muhammadiyah harus memiliki sistem pertahanan organisasi yang dapat memperketat peluang orang melakukan korupsi,” tegasnya.

 

Selain itu, Dadang menjelaskan bahwa pentingnya melakukan evaluasi terhadap sistem rakwah supaya agama menjadi bagian dari kepribadian, tidak hanya menyampaikan agama sebagai wawasan saja. Sedangkan yang sifatnya keluar, Muhammadiyah dan Ormas keagamaan tetap harus menjadi kontrol social, agar praktek-praktek korupsi di lembaga-lembaga publik dan para pejabat Negara bisa berkurang karena selalu dikontrol oleh Ormas keagamaan ini. “Dan yang tidak kalah pentingnya adalah setiap Ormas keagamaan termasuk Muhammadiyah harus bersih-bersih di dalam, agar kita dapat menjadi contoh untuk melakukan pemberantasan korupsi,” pungkasnya.

 

Reporter : Roni Tabroni

Shared:
Shared:
1