Aksi Tolak Kenaikan BBM, IMM Siram “SBY” Dengan Bensin

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 26 Maret 2012 12:23 WIB

 

Yogyakarta- Persis di tengah perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, tampak bakul angkringan dan tukang becak menyiram jerigen bensin ke tubuh presiden SBY. Hal tersebut merupakan bentuk aksi teatrikal dari demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang dilakonkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang AR Fakhruddin Kota Yogyakarta.

Sekitar lima puluhan peserta aksi tolak kenaikan BBM dari IMM AR Fakhruddin, tampak membuat lingkaran di tengah perempatan titik nol kilometer Yogyakarta, sebagian dari peserta aksi membawa bendera-bendera IMM dan juga poster-poster berisi kecaman terhadap pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Aksi yang dimulai sekitar pukul 10 pagi tersebut dimulai dengan bergiliran tiap peserta berorasi, dalam orasi tersebut diselipkan aksi teatrikal seorang yang memakai topeng Presiden SBY sedang membagi-bagi uang kepada rakyat kecil yang digambarkan bakul angkringan, tukang becak, dan asongan sebagai gambaran SBY membagikan BLTS (Bangsung Langsung Tunai Sementara). Pada akhir aksi tatrikal, tampak tukang becak, bakul angkringan meluapkan kemarahan karena kebutuhan hidup yang masih saja kurang   setelah menerima BLTS, dengan menyiramkan satu jerigen bensin di tubuh SBY. Aksi tolak kenaikan harga BBM yang berlangsung hingga pukul 11.30 berlangsung tertib dan tidak terjadi kerusuhan.

Menurut koordinator aksi Rijal Alam Muhammadi, aksi tersebut merupakan gambaran bahwa rakyat sudah frustasi dengan harga-harga kebutuhan pokok yang mulai naik sejak isu kenaikan harga BBM mulai didengungkan, Senin (26/03/2012). Rijal mengungkapkan, efek kenaikan harga BBM yang rencananya akan dilaksanakan per 1 April mendatang, jelas akan lebih membuat rakyat kecil semakin terjepit dengan naiknya kebutuhan sehari-hari. Pemerintah menurut Rijal juga dinilai telah melakukan kebohongan dengan memberikan pernyataan bahwa pemerintah mengalami kerugian dengan tidak menaikkan harga BBM. Lebih lanut menurut Rijal, banyak para pengamat dan ekonom yang memperkirakan bahwa dengan harga yang saat ini, pemerintah telah meraup untung sekitar 97 Triliun, dan dengan asumsi knaikan harga premium yang diperkirakan Rp 6.000, maka pemerintah diperkirakan akan mendapatkan keuntungan hingga lebih dari 192 triliun. “Pemerintah yang dikomandoi (presiden) SBY telah tuli, dan mengesampingkan suara rakyat yang menginginkan tidak adanya kenaikan, serta lebih mementingkan kepentingan asing demi mendapat keuntungan kekuasaan,” tegasnya. 

Shared:
Shared:
1