Pertanian Terpadu Solusi Cegah Menurunnya Kesuburan Lahan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 28 Maret 2011 14:56 WIB

Surakarta- Munculnya revolusi hijau disadari telah menimbulkan permasalahan lain dalam dunia pertanian, diantaranya menciptakan ketergantungan para petani pada penggunaan pupuk kimia dan pestisida serta menurunnya kesuburan lahan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pertanian terpadu dinilai sebagai solusi alternatif yang juga mampu memberikan kemanfaatan lebih besar bagi para petani di Indonesia.

Demikian disampaikan Konsultan Ahli Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir., DAA., DEA Ali Agus, dalam Semiloka MPM PP Muhammadiyah dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, Minggu (27/3) di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Acara yang digelar sejak Jumat – Minggu (25 – 27/3) ini diikuti sejumlah pengurus MPM PP Muhammadiyah, perwakilan MPM Pimpinan wilayah di pulau Jawa, LPM Perguruan Tinggi Muhammadiyah seluruh Indonesia.

Ali mengungkapkan, apabila negeri ini tidak boleh meninggalkan generasi mendatang dalam keadaan yang tak sehat. Untuk menciptakan generasi sehat, maka pertanian menjadi aspek terpenting yang harus menjadi perhatian penuh. Ia juga menambahkan jika negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Australia maju berkat landasan ekonomi mereka yang berbasis industri pertanian, baik tanaman pangan, peternakan, perikanan.

Ia menuturkan, jika revolusi hijau juga memberikan dampak bagi dunia pertanian karena menyebabkan ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida dan mengganggu ekosistem. “Selain itu, revolusi hijau telah membuat kesuburan lahan menurun serta produktivitas pertanian yang stagnan,” jelasnya. Semakin jauhnya petani dari prinsip kearifan lokal juga menjadi akibat dari adanya revolusi hijau yang ditandai dengan beberapa permasalahan pertanian di Indonesia, diantaranya adalah hilangnya sekitar 275 varitas padi lokal (seperti Gogo Lempuk, Kawoeng, Dewi Tara, Tjina, Si Gadis, MAndjetti, Gendjah Lampung, Rodjo Lele) di pulau Jawa. Sebanyak 54 varitas padi di kalangan peladang berpindah di sekitar Dayak Hulu Sungai Bahau juga musnah.

Menghadapi permasalahan tersebut, Ali menilai sistem pertanian terpadu (intregrated farming) dengan ternak sebagai mesin penggerak menjadi solusi alternatif. “Mengaplikasikan sistem pertanian terpadu, maka petani diarahkan untuk melakukan sistem usaha tani yang dapat memperpanjang siklus biologis dengan mengoptimalkan lahan, hasil samping pertanian, perkebunan dan peternakan sehingga setiap mata rantai siklus menghasilkan produk baru yang bernilai ekonomis,” terangnya.

Manfaat yang diperoleh dengan mengaplikasikan sistem pertanian terpadu dapat meningkatkan variasi sumber pendapatan, menurunkan biaya produksi, optimalisasi pemanfaatan lahan secara bijak sehingga kesuburannya tak menurun, hingga menciptakan pengembangan kelembagaan yang terpadu.

Shared:
Shared:
1