Kisah Triyono Sahabat Difabel Muhammadiyah, Pencetus Ojek Online Difabel Pertama di Dunia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 19 Desember 2016 23:44 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Diskriminasi dan minoritas akan selalu ada, jika kita hanya diam. Namun jika kita terus bergerak dan berusaha untuk maju, maka secara otomatis diskriminasi dan minoritas akan tergerus dengan sendirinya.

Kutipan tersebut diutarakan oleh Triyono, yang merupakan salah satu Sahabat Difabel Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah yang saat ini telah sukses dengan usahanya yaitu mendirikan ojek online difabel, yang ia beri nama Ojek Difa.

Disampaikan Triyono yang merupakan Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, Ojek Difa berawal dari program pemberdayaan untuk teman-teman difabel, khususnya pemberian motor untuk mobilitas pada awal tahun 2015.

“Berjalan waktu, muncul masalah terutama cash flow dan peningkatan ekonomi. Dari dasar inilah maka muncul ide bagaimana cari nafkah dengan menggunakan motor tersebut, dan juga saat ini tengah marak perkembangan bisnis ojek online, maka itu lahirlah Difa City Tour and Travel (Ojek Difa),” terang Triyono ketika ditemui redaksi Muhammadiyah.or.id, Ahad (18/12) dalam acara Peluncuran Sahabat Difabel yang digagas MPM PP Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.

Triyono mengatakan, tujuan dari didirikannya ojek difa yaitu menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai untuk teman-teman difabel yang dikemas dengan system yang baik. Selain itu, lanjut Triyono, ia berkeinginan untuk mengubah paradigma masyarakat, bahwa selama ini difabel hanya merupakan beban sosial, menjadi bagian dari subyek sosial ekonomi masyarakat.

Terlepas dari hal tersebut, Triyono mengatakan bahwa dirinya tidak pernah merasa bersedih dengan keadaan yang saat ini dialaminya, yaitu dengan menderita polio sejak kecil. Karena menurutnya kehidupan pasti berputar.

“Difabel bukan tentang kaya dan miskin, tetapi tentang kebutuhan,” tegas Triyono.

Triyono juga berpesan kepada para penyandang difabel lainnya untuk terus maju, bangun, dan terus melangkah untuk mengejar mimpi-mimpi. “Hakekatnya semua manusia itu tidak ada yang sempurna, namun yang membedakannya adalah bagaimana ia bisa menutupi ketidaksempurnaan tersebut dengan terus berusaha dan berjuang,” ujarnya.

Triyono bersama 20 orang mitra ojek difa, kedepannya akan akan lebih progresif dalam hal pengembangan bisnis pariwisata. “Selain fokus pada pengembangan bisnis yang ada, saat ini kami juga tengah mewujudkan Jogja ramah difabel dan wisata ramah difabel,” tutup Triyono. (adam)

Shared:
Shared:
1