Muhammadiyah Pelopori Gerakan Ramah Difabel

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 18 Desember 2016 00:57 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID YOGYAKARTA – Tiap manusia diciptakan sebaik-baiknya oleh Allah SWT, kekurangan pada manusia bukan merupakan suatu hal yang patut disesali terus menerus. Pada hakikatnya, setiap kekurangan pada manusia pastilah diikuti dengan kelebihan pula. Tugas manusia adalah bersyukur, terus berusaha dan saling menghargai satu sama lain.

Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan PusatMuhammadiyah yang konsisten dalam melakukan pemberdayaan serta selalu progresif dalam menciptakan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Setelah sukses dengan program-program pemberdayaan masyarakat, kini MPM hadir kembali dengan membawa program solutif khusus difabel yakni Komunitas Sahabat Difabel (KSD), yang secara resmi di Launching pada Ahad (18/12).

“Komunitas Sahabat Difabel ini menjadi wadah untuk meningkatkan derajat para difabel yang selama ini dipandang sebelah mata,” ujar Sardjito, Wakil Bendahara MPM PP Muhammadiyah pada acara launching Komunitas Sahabat Difabel sekaligus Peringatan Hari Difabel Internasional di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jalan Cikditiro Yogyakarta.

Lebih lanjut, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut menjelaskan bahwa program ini juga bertujuan untuk membantu membesarkan hati para difabel agar tidak merasa kecil hati karena kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki.

“Tiap manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing, termasuk difabel. Difabel juga memiliki potensi untuk maju,” kata Sardjito.

Terkait Undang-Undang Difabel, kata Sardjito, MPM PP Muhammadiyah sudah mengaturnya, dan sudah diturunkan ke tingkat wilayah dan daerah, hingga ranting Muhammadiyah. Hanya saja penggerak di tingkat wilayah dan daerah belum bisa masif seperti di tingkatan pusat. Sehingga gerakan konsen difabel di wilayah dan daerah belum bisa digerakkan secara optimal.

“Kami akan berusaha mendorong tingkat wilayah dan daerah agar bisa aktif, sehingga Muhammadiyah menjadi gerakan pelopor yang menghargai kaum difabel,” tutup Sardjito. (nisa)

Shared:
Shared:
1