Muhammadiyah Menilai Perekonomian Nasional Belum Tumbuh Sesuai Harapan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 16 Desember 2016 22:38 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA-- Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan Diskusi Publik Muhammadiyah Economic Outlook bertajuk “Proyeksi dan Dinamika Perekonomian Indonesia 2017” yang diselenggarakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Jakarta pada Kamis (14/12).

Tujuan diselenggarakannya diskusi yang digelar oleh MEK PP Muhammadiyah antara lain untuk memberikan pandangan terhadap evaluasi ekonomi yang terjadi di tahun 2016 dimana indikator kinerja makro ekonomi Indonesia menunjukkan, perekonomian nasional belum tumbuh sesuai harapan.

Moh. Nadjikh, Ketua MEK PP Muhammadiyah memandang, Muhammadiyah perlu  hadir untuk bisa berperan aktif dalam mendorong perekonomian nasional yang lebih berkeadilan, meningkatkan daya saing sektor-sektor potensial yang belum digarap serius, seperti pertanian, perikanan, UMKM, dan industri kreatif.

Dalam kajian MEK PP Muhammadiyah yang dilakukan para ekonom Muhammadiyah, menilai, selama ini berkaitan tentang  realitas perekonomian dimana tren ketimpangan ekonomi masyarakat semakin akut sejak era reformasi.

“Sektor pertanian dan kelautan sebagai basis ekonomi rakyat peran sektoralnya terus menurun. Kontribusi di sektor pertanian pada PDB menurun dari 15,19 persen menjadi 14,43 persen. Bahkan peran sektor kelautan hanya 3%.  Di sisi lain 38,07 juta orang atau 26,14 juta rumah tangga yang menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Ironisnya, impor produk pertanian terus melonjak dari US$3,34 miliar hingga hampir 5 kali lipat menjadi US$14,90 miliar,” terang Nadjikh.

Sementara itu, Menurut Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah, jika banyak proses ketimpangan yang dibiarkan begitu saja dikhawatirkan memunculkan eksplosi sosial skala massif. “Oleh karena itu Muhammadiyah mengusulkan kebijakan redistribusi ruang dan tanah agar mencapai sasaran negara dalam pemerataan kemakmuran,” ucapnya.

“Hal ini  nampak dari  dari target awal pertumbuhan yang ditetapkan 5,3% yang kemudian dilakukan koreksi menjadi 5,1%. Hingga triwulan-3 2016, pertumbuhan ekonomi secara kumulatif 5,04%. Dalam konteks kawasan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif masih bagus. Dari sisi inflasi juga relatif tetap terjaga di angka 3,5%,” kata Anwar.

Kehadiran Muhammadiyah, lanjut Anwar,  sebagai gerakan sosial dan keagamaan yang senantiasa bekerjasama, mendukung, dan mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk di bidang ekonomi. "Muhammadiyah berpandangan bahwa pembangunan ekonomi harus berpegang pada spirit konstitusi yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945,”ujarnya. (syifa)

 

Kontributor : Agus Yuliawan

 

Shared:
Shared:
1