Pemuda Muhammadiyah: Gerakan Anti-Korupsi Harus Membudaya dalam Kehidupan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 09 Desember 2016 06:01 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Menyambut Hari Anti Korupsi yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2016, Pemuda Muhammadiyah telah menyampaikan refleksi bahwa Gerakan Antikorupsi tidak bisa hanya menjadi gerakan sporadis dan formalistik.

“Gerakan Antikorupsi harus menjadi gerakan kebudayaan, yang mampu menyasar seluruh sendi kehidupan yang sudah dirampas praktek korupsi, oleh sebab itulah internalisasi nilai penting sebagai langkah awal lawan korupsi,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ketika dihubungi Muhammadiyah.or.id, Kamis (8/12).

Internalisasi nilai Antikorupsi menurut Dahnil harus dilakukan terhadap seluruh lapisan masyarakyat. “Harus ada kesadaran kolektif di masyarakat, bahwa korupsi adalah kejahatan kemanusiaan yang harus dilawan bersama,” ujar Dahnil.

Selain itu, Dahnil juga mengatakan bahwa pada dasarnya Muhammadiyah sudah memiliki modalitas untuk mendorong Gerakan Berjamaah Lawan Korupsi melalui Muhammadiyah.

“Pertama, secara institusional Muhammadiyah punya tradisi produktif. Bekerja. Tradisi memberi bukan tradisi menerima. Sehingga, Gerakan Muhammadiyah sangat mandiri dan tidak tergantung dengan kekuatan politik mana pun,” terang Dahnil.

Lanjut Dahnil, tokoh-tokoh Muhammadiyah rata-rata dikenal sebagai pribadi yang memiliki integritas tinggi, sehingga sangat otoritatif jika berbicara mengenai pesan moral antikorupsi.

Kedua, Gerakan Antikorupsi adalah masalah masa depan. Praktek korupsi itu merampas masa Depan. “Nah, masa depan itu adalah milik pemuda, artinya praktek korupsi itu merampas masa depan anak muda. Sehingga sudah tepat jika gerakan berjamaah lawan korupsi yang sudah menjadi keputusan Muktamar Makasar dimotori oleh Pemuda Muhammadiyah,” ujar Dahnil.

Dahnil menjelaskan, bahwa gerakan Berjamaah Lawan Korupsi, melalui Pendirian Madrasah Antikorupsi di 24 Kabupaten dan Kota merupakan upaya Pemuda Muhammadiyah membangun tradisi Antikorupsi di internal Muhammadiyah, khususnya Pemuda Muhammadiyah.

Ibda Binafsihi atau dimulai dari diri sendiri, misal pada periode ini laporan keuangan PP Pemuda Muhammadiyah dipublish secara terbuka di website, dan disampaikan secara lengkap kesemua stakeholder, sehingga siapa saja bisa mengetahui darimana sumber pendanaan Dakwah Pemuda Muhammadiyah dan digunakan untuk apa saja,” jelas Dahnil.

Bahkan, lanjut Dahnil, pada Tanwir I Pemuda Muhammadiyah yang ditutup oleh Presiden Jokowi di Kota Tangerang beberapa waktu lalu juga menghasilkan khittoh cipondoh.

“Orientasinya membentuk Kader Pemuda Muhammadiyah yang merawat integritas secara konsisten selain tentu kompetensi. Ini adalah upaya-upaya internalisasi nilai,” tutup Dahnil. (adam)

 

Redaktur: Dzar Al Banna

 

BERITA NASIONAL

Shared:
Shared:
1