Din Syamsuddin: Agama Harus Dijadikan Problem Solver untuk Perdamaian Dunia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 05 Desember 2016 03:03 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL-- Saat ini, keberagaman agama di dunia seringkali menimbulkan pandangan dan pemikiran yang berbeda. Sehingga keberagaman tersebut beresiko untuk menimbulkan konflik antar umat, namun sesungguhnya ajaran setiap agama selalu menjunjung tinggi perdamaian.

Dengan mengankat tema “peace and inter-religious dialogue in worldwide education”, acara Mahathir Global Peace School (MGPS) ke-5 ini diharapkan dapat menjadi pemersatu umat. Acara yang dihadiri oleh ribuan mahasiswa UMY ini memang secara khusus membahas mengenai upaya perdamaian dunia. MGPS ini telah berlangsung sejak Sabtu (26/11) hingga Senin (5/12) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Hubungan antar agama merupakan suatu hal yang sangat penting, dan hal itu dapat dimulai dengan proses pendidikan, agar kedepannya ada rasa saling menghormati antar pemeluk agama,” kata Bambang Cipto Rektor UMY.

Pada saat yang sama, Din Syamsuddin Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam pidatonya mengatakan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh dunia saat ini adalah adanya ketiadaan perdamaian dan kurangnya rasa toleransi antar setiap pemeluk agama. Oleh sebab itu Din mengajak seluruh peserta yang hadir termasuk peserta yang berasal dari sebelas negara berbeda untuk menjadikan agama sebagai problem solver dan sebagai faktor perdamian dunia.

“Dalam permasalahan saat ini, hendaknya kita harus memposisikan agama sebagai pemecah masalah yang ada. Karena sesungguhnya agama itu dari Tuhan, akan tetapi tidak untuk Tuhan saja, namun bagi sekalian alam,” tegasnya.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini kembali menambahkan bahwa yang menjadi salah satu faktor masalahnya adalah adanya krisis moral. “manusia saat ini sedang banyak yang mengalami krisis moral, itulah mengapa pentingnya suatu nilai pendidikan yang harus ditanamkan pada diri kita,” kata Din.

Din berharap agar setiap pemeluk agama dapat bertumpu pada ketulusan dalam beragama agar dapat menjadikan agama itu sebagai problem solver.

“Agama memang banyak yang berbeda, dan perbedaan itu majemuk. Oleh sebab itu antar pemeluk agama haruslah saling bekerja sama dan menjunjung toleransi antar umat agar terwujudnya perdamaina dunia,” tutup Din.(syifa)

 

 

Kontributor : Bobby Gilang

Berita Daerah

Shared:
Shared:
1