Yunahar Ilyas: Jangan Sampai Peran Umat Islam Hilang dari Indonesia

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 28 November 2016 09:31 WIB

 

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MEDAN- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yunahar Ilyas melihat belakangan ini ada indikasi pihak tertentu untuk menghilangkan peran ulama dan Islam di Indonesia.

"Ada upaya mau hilangkan peran ulama dan Islam, maka Muhammadiyah mengingatkan jangan coba pernah melakukan hal itu," pungkas Yunahar Ahad (27/11) dalam acara resepsi Milad Muhammadiyah ke 104 yang digelar di Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Jalan Denai Medan.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini juga mengatakan, peran ulama melahirkan negara Indonesia telah ditegaskan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. "Bukan TNI yang melahirkan negara Indonesia melainkan peran santri, ulama dan tokoh Islam,” ujarnya.

Melihat hal tersebut, Muhammadiyah menginginkan dan mendorong bangsa ini memiliki akidah dan karakter.  

Pertama, bangsa Indonesia menjadi bangsa religius dan taat beragama. Agama harus diletakkan pada posisi paling tinggi sesuai pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan karena berkat rahmat Allah Indonesia merdeka dan negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang bernilai Tauhid.

“Untuk itu Muhammadiyah secara tegas menyatakan tidak ada tempat PKI ataupun komunis di Indonesia,” tegas Yunahar.

Kedua, berkarakter moderat atau pada posisi di tengah-tengah (wasathiyah), adil dan seimbang. "Kita perlu hidup dengan seimbang di tingkat individu, masyarakat, bangsa serta dunia dan akhirat," ucap Yunahar. Untuk itu, lanjut Yunahar, Muhammadiyah menolak paham radikalisme dan liberalisme.

Ketiga, cerdas. Muhammadiyah tidak pernah berhenti mengembangkan pendidikan. Untuk itu karakter bangsa harus berorientasi pada keilmua dan pendidikan. Dan Muhammadiyah telah menunjukkannya dengan berpartisipasi mendirikan 178 perguruan tinggi di Indonesia.

Keempat, mandiri. Prof Yunahar juga sebagai saksi ahli Polri kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok menegaskan, protes besar umat Islam bukan hanya soal ucapan penistaan tetapi juga masalah kesenjangan ekonomi di Indonesia yang sudah memprihatinkan.

“Tidak ada kesenjangan yang panjang di dunia seperti di Indonesia,” tegas Yunahar.

Menurut Yunahar, jika kesenjangan terus dibiarkan bisa mendatangkan aksi revolusi. Ekonomi kita dikuasai asing dan sekelompok orang, padahal umat Islam bagian terbesar dan memperjuangkan republik ini. Maka Muhammadiyah, lanjut Yunahar, mendorong bangsa ini untuk mandiri dari intervensi asing dan upaya sekelompok orang menguasai aset negara.

Milad yang dihadiri ratusan warga Muhammadiyah dari sejumlah kabupaten dan kota di Sumut tersebut turut dimeriahkan penampilan korps paduan suara UMSU. Turut hadir Rektor UMSU Agussani, Wakil Rektor UMSU Muhammad Arifin Gultom, Akrim, Rudianto, Kepala Observatorium Ilmu Falak (OIF) Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, Ketua Panita Resepsi Milad Muhammadiyah yang juga Dekan FAI UMSU Muhammad Qorib.

Selain itu hadir pula Ketua dan unsur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumut Hasyimsyah Nasution, Ibrahim Gultom, Nawir Yuslem, Ibrahim Sakty Batubara,  Pengurus MUI Sumut  K.H. Arso, serta pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan Ortom lainnya. (adam)

 

Sumber : Pimpinan Wilayah Sumut

 

Shared:
Shared:
1