Ragam Seni di Resepsi Milad Muhammadiyah 104 Bangkalan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 28 November 2016 08:33 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANGKALAN-  Beragam kesenian turut mewarnai upacara peringatan Milad ke-104Muhammadiyah yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim) di Bangkalan, Madura, pada Ahad (27/11).

Derap rancak musik memecah cuaca terik di Stadion Gelora Bangkalan. Dengan mengangkat tema “Dari Madura Meneguhkan Muhammadiyah di Mata Dunia” menjadi gambaran bagaimana Madura melahirkan tokoh-tokoh yang mendunia dan kini salah satunya ialah melalui penampilan kesenian asal Madura yang telah mendunia.

“Madura itu memiliki budaya yang sangat tradisional. Muhammadiyah pun seperti itu karena prinsip arruju illa quran wa sunnah (kembali pada Quran dan Sunah). Nilai-nilai yang membentuk budaya al islamiyah, yang memengaruhi Madura dan Muhammadiyah,” kata Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim M Saad Ibrahim.

Pertama dimulai dengan penampilan oleh defile yang berbusana aneka rupa dan warna seperti sayap burung dan kupu-kupu. Mereka datang dari dua sisi lapangan yang berseberangan. Selang beberapa waktu sambil diiringi musik mereka menari hingga ke tengah lapangan. Kemudian disusul oleh penari lain yang menuju ke tengah lapangan. Lalu dari belakang deretan anggota tapak suci dengan rapi mengiri tarian mereka.

Tak berapa lama, musik berganti tempo dan irama. Puluhan orang masuk ke tengah lapangan dengan pakaian khas Madura. Mereka menari sambil membawa bendera Muhammadiyah dan membentuk lingkaran di tengah. Properti khas Madura seperti baju bergaris merah dan putih serta pecut tak lupa dipakai oleh mereka. Tiba-tiba sepasang anak masuk ke tengah lapangan. Mereka menirukan gerak karapan sapi yang menjadi maskot dari Pulau Madura. Adegan saling mengejar antara penari dan anak-anak menjadi pemandangan menarik.

Penampilan ketiga dimulai ketika warok masuk ke lapangan diikuti oleh penari jaran kepang serta Reog yang menjadi maskot Ponorogo. Beberapa adegan menakjubkan ditampilan seperti meloncat ke depan dan belakang oleh warok serta gerakan reog yang meliuk-liuk. Sorak tepuk tangan langsung mengiri pertunjukkan. Reog ini sendiri ditampilkan karena kesenian ini masih berhubungan dengan Madura.

 

Rangkaian ketiga kesenian yang telah ditampilkan, ditutup dengan lagu Tanah Airku.

“Saya sangat senang melihat penampilan semua keseniannya dan membuat saya sangat cinta dengan budaya tradisional,” tutur Yani peserta dari IMM Sepuluh November. (adam)

 

Kontributor : Imama Insani

 

 

Shared:
Shared:
1