Ketua MPI PWM DIY Bicara Kebudayaan di STAIM Bandung

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 27 November 2016 11:38 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG -- STAI Muhammadiyah Bandung (STAIM Bandung) menggelar diskusi visi kebudayaan Muhammadiyah dan pendidikan Islam di Bandung, Kamis (24/11). Kiprah Persyarikatan Muhammadiyah selama seabad pun menjadi bahasan utama dalam acara untuk menyemarakkan milad ke 104 organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu.

Salah satu pembicara diskusi tersebut, Dr. Robby H. Abror menuturkan, Muhammadiyah sejak awalnya selalu mengedepankan nilai ikhlas saat membangun karya-karyanya. Yakni, dalam mendirikan amal usaha Muhammadiyah, para pimpinan telah memahami bahwa yang dilakukannya merupakan ibadah yang mulia.

Hal di atas itulah, yang juga menyebabkan Muhammadiyah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Prestasi yang telah diraihnya itu, merupakan produk kebudayaan dari Muhammadiyah. Sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, baitul maal, televisi, radio, majalah, dan karya seni lainnya menjadi ciri hasil kebudayaan Muhammadiyah. Karena itu, menurut Ketua MPI PWM DIY ini, ikhlas merupakan kunci dari berhasilnya Muhammadiyah membangun budaya.

Namun, menurut Robby, fenomena kebudayaan saat ini yang penting diperhatikan yaitu tentang budaya masyarakat dalam menyikapi berita dan informasi yang didapat dari media konvensional maupun media sosial. "Umat islam ini menjadi komoditas, Islam jadi berita, dipolitisir, dihantam sana-sini," ujarnya memberitahukan di hadapan civitas akademika STAIM Bandung.

Robby mengatakan, media-media kini sudah dikuasai oleh asing. Bahkan, masyarakat pun, tidak mengetahui, apakah media tersebut merupakan bagian dari proxy war atau bukan.

"Kita sedang menghadapai remot kontrol politik," terang dia. Masyarakat Islam, katanya, dinilai tengah dikontrol oleh pihak yang berkepentingan mengambil untung dari kondisi yang ada. 

"Yang bertempur itu sebenarnya hanya wayang-wayangnya saja," tegas dosen filsafat agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Persoalan tersebut terjadi, menurut Robby, karena Islam laku untuk diperbincangkan. "Kita ini sedang diadu domba."

Robby mengharapkan, masyarakat lebih cerdas dalam membudayakan sikap hati-hati ketika mendapatkan berita ataupun informasi yang sangat mudah diperoleh melalui telepon cerdas. Sebab, katanya, masih banyak masyarakat yang membagikan berita dan informasi yang asal-asul dan kontennya pun tidak jelas.

Bahkan, berita dan informasi itu berantai hingga tak jarang menyebabkan hal yang negatif bagi masyarakat itu sendiri. Ini juga, jelasnya, dikarenakan budaya masyarakat dalam menggunakan teknologi masih jauh dari yang diharapkan untuk lebih baik.

Lebih lanjut, terkait perjalanan pendidikan Islam saat ini, kata Robby, masyarakat perlu membuat perubahan secara signifikan dari pribadinya terlebih dahulu. "Secara internal masalah kita sendiri," katanya.

Dari pribadi sendiri, keluarga, lingkungan yang dekat, Robby menjelaskan, kebudayaan dan pendidikan Islam yang baik dapat diwujudkan. Dan hal itu, katanya, amat mudah dari melakukannya dengan hal yang kecil terlebih dahulu. Yaitu dengan memberikan teladan, berbicara yang baik, mengajari keluarga tentang akhlak dan ibadah Nabi Muhammad yang menjadi petunjuk hidup.

Tak kalah penting juga, dalam membangun kebudayaan dan pendidikan Islam, Robby mengatakan, setiap orang harus melibatkan Allah agar setiap langkahnya dinilai ibadah dan berlipat pahala.

Turut hadir yakni Ketua STAI Muhammadiyah Bandung, Dr. Hendar Riyadi, Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati, Prof. Asep Saeful Muhtadi, dan Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Iu Rusliana yang juga menyampaikan gagasannya dalam diskusi tersebut.

 

Kontibutor: Ridlo Abdillah

Shared:
Shared:
1