Kerap Dicibir Karena Status Guru Honorer, Pujiyati Tetap Tulus Mengabdi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 25 November 2016 12:53 WIB

WWW.MUHAMMADIYAH.OR.ID GUNUNGKIDUL – Pengabdian merupakan salah satu nafas perjuangan seorang guru. Dengan tugas mulia yang diembankan pada seorang guru, setiap guru memiliki andil dalam turut serta mencerdaskan generasi penerus bangsa. 

Guru, pahlawan tanpa tanda jasa, kiasan tersebut sangat layak untuk diberikan kepada Pujiyati, guru TK ABA Ngloro, Saptosari, Gunungkidul. Pasalnya, Pujiyati sudah mengabdi menjadi guru selama 20 tahun, dari mendirikan hingga mempertahankan seperti sekarang ini.

“TK ABA Ngloro ini merupakan tempat berjuang yang tidak akan pernah saya tinggalkan, walau ada banyak masalah yang datang,” kata Pujiyati, saat ditemui redaksi muhammadiyah.or id pada Kamis, (24/11).

Lebih lanjut Pujiyati menceritakan, bahwa semangat dan kegigihan yang ia dapatkan selama mengabdikan diri di TK ABA Ngloro ini berawal dari kecintaannya terhadap Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Rasa semangat juang yang tinggi sudah ia dapatkan sejak usia belia.

“Saya aktif di IPM, NA, dan ranting Muhammadiyah sejak usia remaja, sehingga rasa memiliki terhadap Muhammadiyah sangat melekat pada diri saya,” jelas Pujiyati. 

Selama masa pengabdiannya, Pujiyati menghadapi berbagai macam masalah, dari masa pendirian TK hingga cibiran-cibiran yang ia dapatkan karena posisinya hanya sebagai guru honorer. Dalam memenuhi kebutuhan TK, Pujiyati dapat memanfaatkan penghasilan dari usahanya membuka katering makanan. 

“Saya sering dicibir karena hanya sebagai guru honorer, padahal kan guru honorer ataupun tidak, tugasnya sama-sama mengajar, tetapi uluran tangan pemerintah masih belum maksimal dalam hal ini,” ujar Pujiyati. 

Walaupun begitu, Pujiyati tidak terlalu menghiraukan cibiran dan permasalahan lainnya, karena baginya menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai. Berbagai penghargaan pun telah diraih Pujiyati, diantaranya Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Gunung Kidul tahun 2010, dan mendapatkan Muhammadiyah Award kategori TK Aba.

“Pesan terpenting untuk seorang guru adalah mengabdi yang tulus, ikhlas dan tanpa pamrih,” tutup Pujiyati. (adam/nisa)

 

Shared:
Shared:
1