Sholihin Fanani, Pendidiknya Para Siswa Juara

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 25 November 2016 09:23 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURABAYA- Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 4 (MUDIPAT) Pucang, Surabaya dikenal sebagai sekolahnya para juara nasional seperti juara robotika tingkat nasional, bahkan event-event skala internasional seperti juara olimpiade matematika mulai tingkat ASEAN, Asia, hingga dunia, pun dengan lomba-lomba robotika, dan bidang-bidang lainnya. Berbagai penghargaan pun juga diterima oleh institusi tersebut (MUDIPAT), misalnya penghargaan Muhammadiyah Education (ME) Award selama sembilan tahun berturut-turut.

SD MUDIPAT Pucang telah terakreditasi A serta menjadi sekolah teladan nasional dan sekolah swasta terbaik di Jawa Timur berdiri pada tahun 1963 mengusung tagline "Bring You to the Bright Future" merupakan aset berharga Muhammadiyah yang telah diakui secara nasional, bahkan secara internasional.

Salah satu tokoh pimpinan yang sangat berperan dalam meletakkan fondasi kokoh bagi kemajuan SD MUDIPAT Pucang hingga sampai sekarang SD MUDIPAT Pucang menjadi sekolah yang unggul dan mampu bersaing dengan berbagai sekolah-sekolah unggulan nasional (bahkan internasional) lainnya adalah M. Sholihin Fanani, yang telah mengabdikan seumur hidupnya (sejak meraih gelar sarjana) di SD MUDIPAT Pucang, Surabaya.

Pria kelahiran Lamongan, 12 Mei 1968 tersebut pernah menjabat sebagai Kaur Al-Islam (1999-2001), Wakil Kepala Sekolah (2001-2006), dan menjadi Kepala Sekolah SD MUDIPAT Pucang pada tahun 2006 hingga 2014 yang kemudian diikuti dengan beragam prestasi yang menyertai institusi maupun siswa-siswi SD MUDIPAT Pucang.

Pria yang menamatkan Studi S1 di IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel, Surabaya tersebut mengatakan beberapa kiatnya (terutama ketika menjadi Kepala Sekolah) dalam membangun SD MUDIPAT Pucang yang unggul.

 "Guru-guru harus kenyang, biar siswa-siswanya bisa berprestasi," tuturnya.

"Jadi," lanjutnya, "Ada yang namanya manajemen muthmainah, dimana guru itu harus benar-benar dihargai, harus disejahterakan, kita memanusiakan manusia. Guru itu harus dibuat senang, kenyang, dan tenang, lantas kemudian bisa menang," jelasnya kepada kontribututor muhammadiyah.or.id pada Rabu (23/11) via seluler.

Selain itu, tentunya guru sebagai tenaga pendidik harus diberikan kepercayaan penuh dalam mendidik siswanya sehingga para guru dapat lebih bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya. "Kalau siswanya gagal, kalah dalam kompetisi, berarti itu juga kegagalan seorang guru sebagai bentuk tanggung jawabnya, itulah kenapa guru tentunya akan berupaya maksimal dalam mencetak siswa-siswa berprestasi. Mendidik itu harus sungguh-sungguh dan sepenuh hati, agar benar-benar bisa mencetak siswa-siswa yang siap menjadi kader persyarikatan, kader bangsa, maupun kader umat," tutur pria yang menamatkan pendidikan pasca sarjana strata-2 di Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Disamping membangun SDM (Sumber Daya Manusia), Pak Sol, sapaan akrab beliau juga tak melupakan pembangunan fisik berupa fasilitas dan infrastruktur, sebut saja pembangunan gedung "the Millenium Building" yang berfungsi sebagai hall atau aula SD MUDIPAT Pucang, di lantai satu juga berfungsi sebagai ruang kantor.

Selama menjadi tenaga pendidik di SD MUDIPAT Pucang, Pak Sol selalu menekankan niat bahwa mengajar adalah ibadah, mengamalkan ilmu pengetahuan adalah amal shalih, dan mengajar merupakan suatu hal yang dianjurkan Allah SWT. "Orang yang mengamalkan ilmunya, yang mentransferkan ilmunya mendapatkan kemuliaan derajat baik di hadapan manusia maupun Allah, itu janjinya Allah," katanya mantan pengurus PDM Surabaya tersebut.

"Selanjutnya ada empat kompetensi yang saya berikan sebagai profil siswa MUDIPAT, yaitu kompetensi agama, kompetensi akademik, kompetensi akhlakul karimah, dan kompetensi keterampilan hidup, itu semua wajib saya tanamkan dan dimiliki oleh siswa MUDIPAT," urainya via seluler saat bertugas di Negeri Jiran (Malaysia) kepada muhammadiyah.id pada Rabu (23/11).

Selain itu, pria yang juga pengurus PWM Jawa Timur itupun juga merintis kerjasama yang baik dengan berbagai institusi, baik pendidikan maupun non-pendidikan. Bukan saja kerjasama dalam negeri, diluar negeri pun ia turut menjalin kerjasama dengan berbagai institusi, sebut saja kerjasama yang dijalinnya dengan Lindfield East Public School, Sydney, Australia dan Sri Utama Schools, Kuala Lumpur, Malaysia.

Sosok pendidik inspiratif yang juga mantan Sekretaris Korwil FOKAL (Forum Keluarga Alumni) IMM Jawa Timur tersebut kini masih berstatus sebagai guru SD MUDIPAT Pucang, Surabaya setelah membangun fondasi yang sangat kokoh untuk keberlangsungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam upaya mencapai tujuan Muhammadiyah. (adam)

Kontributor: ubay

Shared:
Shared:
1