Wujudkan Generasi Berkarakter, UMSU Gelar Kajian Intensif Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 24 November 2016 13:31 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MEDAN--  Membangun mahasiswa berkarakter adalah komitmen pimpinan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dalam menjawab kebutuhan sumber daya manusia untuk Indonesia Berkemajuan.

Hal tersebut  disampaikan oleh Rudianto, Wakil 3 Rektor UMSU pada pembukaan pengkaderan Kajian Intensif Al-Islam dan ke-Muhammadiyahan  (KIAM) atau Kajian Intensif Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan, Angkatan ke-2, Rabu (23/11) di Pusdiklat Aisyiyah Sumatera Utara, Jalan Demak, Medan.

Kajian Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan menjadi pembeda dan ciri pendidikan yang diberikan UMSU untuk menjadikan lulusan UMSU menjadi sarjana yang berkarakter. Program KIAM direncanakan seluruh mahasiswa baru tahun akademi 2016-2017 yang berjumlah 4.600 mahasiswadan diselenggarakan oleh tim Pusat Kajian Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan (PSIM) guna mendekatkan mahasiswa kepada kehidupan ruhaniah.

Menanamkan nilai-nilai ruhaniah atau nilai-nilai Islam, menurut Rudianto,  saat ini menjadi demikian penting. “Berbagai dinamika yang terjadi di berbagai kampus, seperti premanisme, narkoba dan kekerasan merupakan tantangan serius. Situasi itu hanya akan dapat diatasi dengan membangun mahasiswa yang memiliki karakter bukan pecundang,” pungkasnya.

“Untuk itu semua mahasiswa untuk ikut berkomitmen membangun secara bersama Islam yang berkemajuan dan Indonesia berkemajuan,” tambah Rudianto.

Saat pelaksanaan pembukaan KIAM, Rudianto juga memperkenalkan tiga mahasiswa yang berhasil meraih peringkat ke 2 pada event Lomba Karya Tulis Ilmiah Bidik Misi yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga, Surabaya.

Pada even yang diikuti perguruan tinggi negeri dan swasta itu, UMSU berhasil mengungguli beberapa peserta dari universitas negeri, seperti Unair dan UGM. “ Ini adalah prestasi besar sekaligus menegaskan bahwa tidak ada pembeda antara mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri  (PTN) dengan mahasiswa dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Yang menjadi pembeda adalah kualitas dan karyanya,” jelas Rudianto.

 

Kontributor :  Syaiful Hadi/MPISU

Berita Daerah

 

Shared:
Shared:
1