Kegiatan Pemberdayaan di Perguruan Tinggi Cegah Mahasiswa Tercerabut Dari Masyarakat

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Sabtu, 26 Maret 2011 21:10 WIB

Surakarta- Dalam mengupayakan kegiatan yang menyejahterakan masyarakat, pemberdayaan masyarakat idealnya harus dilakukan dengan perbuatan konkret yang berbasis riset dan mendidik serta mencerdaskan masyarakat. Perguruan Tinggi didorong untuk melakukan pemberdayaan masyarakat sebagai wujud penjabaran dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan melibatkan mahasiwa, salah satunya dengan pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), agar generasi bangsa tersebut tidak tercerabut dari masyarakat.

Demikian disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Bambang Sudibyo, MBA, dalam Semiloka Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (26/3/2011).

Acara yang dihadiri perwakilan MPM Pimpinan Wilayah, LPM Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, serta PDM se- eks karisidenan Surakarta tersebut digelar sejak Jumat – Minggu (25 – 27/3) dalam rangka menumbuhkan sinergi organisasi dan membangun kemitraan dengan LPM PTM untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat.

Bambang mengatakan, melalui pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah memberikan keteladanan dari sebuah perbuatan konkret berdasarkan praktek dan pengalaman dalam menyejahterakan masyarakat. Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dalam lingkup universitas, dinilai Bambang, juga menjadi penjabaran Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat. “Pemberdayaan masyarakat idealnya harus berbasis riset dan harus mendidik serta mencerdaskan masyarakat,” terang Mantan Menteri Pendidikan di era Kabinet Indonesia Bersatu ini.

Ia juga menegaskan dorongannya untuk tidak menghapuskan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di perguruan tinggi. “KKN tidak sekadar kerja lapangan atau praktek. KKN memiliki makan lebih besar dari hal itu karena dengan KKN, ada pembelajaran bagi mahasiswa untuk menumbuhkan empati sosial. Melihat langsung kondisi masyarakat yang memiliki beragam permasalahan, mahasiswa diharapkan tergerak hatinya untuk mencari upaya bagi persoalan  konkret tersebut sehingga karakter kepemimpinan dan kewirausahaan akan muncul dalam jiwa mahasiswa. Pada akhirnya, mahasiswa menjadi pribadi yang tidak tercerabut dari masyarakat,” urai Bambang.

Shared:
Shared:
1