Malik Fadjar: Sikapi Perubahan Dunia Perguruan Tinggi, PTM Harus Segera Konsolidasi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 24 Februari 2012 17:03 WIB

 

Malang- Menyikapi perubahan di dunia perguruan tinggi di Indonesia terus bergerak, ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. HA Malik Fadjar, menyatakan pentingnya konsolidasi dari berbagai lini. Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memiliki posisi strategis dalam setiap perubahan ke depan sehingga harus melakukan penguatan institusi.

 

Menurut Malik, ada tiga bentuk konsolidasi yang harus dilakukan, yakni idiil, struktural dan personal.  Konsolidasi idiil merujuk pada membangun pandangan dan harapan ke depan, membangun cita-cita, dan bersikap proaktif untuk meraihnya. “Untuk itu diperlukan kemampuan berkomunikasi, berinteraksi untuk saling menguatkan ideologi dan cita-cita itu,” ujarnya dalam Silaturahim PP Muhammadiyah, Majlis Dikti PP Muhammadiyah dengan pimpinan dan dosen UMM, Kamis (23/2) di UMM Dome.

 

Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, juga mengingatkan terwujudnya UMM sebagai PTM ternama tak lepas dari mimpi dan cita-cita yang dibangun sejak masa KH Ahmad Dahlan. Ketika masih muda, Dahlan memimpikan Muhammadiyah dapat mengurusi empat pilar utama, yakni tabligh, pendidikan, media massa (taman siswa) dan kesejahteraan sosial.

 

Khusus masalah pendidikan (sekolahan) yang ditangani KH Ibrahim waktu itu, Dahlan memimpikan ingin membangun universitas yang megah. “Waktu itu mimpi seperti itu terlihat mustahil, tetapi setelah setengah abad lalu seabad ternyata kita bisa mewujudkannya dengan UMM ini,” kata Haedar yang juga didampingi ketua Majlis Dikti PP Muhammadiyah Chairil Anwar.

 

Konsolidasi struktural, lanjut Malik, adalah mensinergikan gerakan dengan semua kekuatan yang ada dalam institusi. “Apakah gerakannya menuju sentripetal mendekati cita-cita atau justru sentrifugal menjauh dari harapan itu,” lanjut Malik.

 

Sedangkan konsolidasi personal meliputi, antara lain, sikap-sikap individu dalam melakukan pelayanan untuk menunjang konsolidasi struktur. “Kampus bukan sekedar bangunan, manusia di dalamnya harus memiliki keseriusan dalam membangun kultur kampus yang kuat,” tuturnya.

 

Haedar menambahkan, untuk menguatkan konsolidasi itu tantangan paling sulit adalah menjaga ritme kohesivitas kepentingan perubahan dengan kesinambungan. Di satu sisi, lembaga harus terus maju bergerak mengikuti perubahan yang terjadi tetapi di sisi lain kesinambungan harus dijaga. Kegagalan menjaga ritme keduanya akan berakibat pada spekulasi goncangan.   

 

Itulah sebabnya, kata Haedar, dalam mengelola amal usaha Muhammadiyah ada lima hal penting. Yakni, pengokohan atau revitalisasi, organisasi dan kepemimpinan, penguatan jaringan, sumbar daya, serta aksi dan pelayanan.

 

Chairil Anwar menambahkan, sebagai PTM yang diandalkan sebagai etalase pendidikan tinggi Muhammadiyah, UMM harus terus kuat dan semakin maju. Inovasi-inovasi harus terus dilakukan sehingga tetap akan menjadi pelopor. “Saya selalu memamerkan kepada siapapun, UMM adalah PTS pertama yang mengangkat guru besar (Prof. Dawam Rahardjo), satu-satunya yang memiliki pembangkit listrik di dalam kampus. Ini tidak bisa ditiru, termasuk oleh kampus saya (UGM),” kata Chairil.(www.umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1