UMM Kembali Terima Sembilan Mahasiswa Australia Untuk Belajar

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Rabu, 22 Februari 2012 08:34 WIB

 

Malang- Sembilan mahasiswa asal Australia yang tergabung dalam program Australian Consortium for ‘In Country Indonesian’ Studies (Acicis) mulai belajar di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (20/2). Menandai masa belajar mereka selama satu semester di UMM, mahasiswa asing itu mengikuti kuliah perdana.

Tujuh di antara mereka merupakan peserta lanjutan dari UGM. Mereka adalah Dale Druhan, Wyatt Gordon, Belinda Hopkins, Melanie Indratheb, Garik Sadovy, Rianna Taratelli dan Sarah Watson. Sedangkan dua orang, yakni Katrina Wallis dan Lighton Gallagher yang Datang langsung dari Australia untuk studi di UMM.

Perwakilan dari Acicis UGM, Dimas Reski Adiputra, yang mewakili Residence Director Acicis, Philip King, mengaku senang para mahasiswa bisa berada di Malang dengan sambutan yang hangat dari pihak UMM. Acicis sendiri merupakan sebuah konsorsium yang dibentuk pada tahun 1994, dan bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dari Australia untuk datang dan belajar di Indonesia. Harapannya semakin banyak mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Hingga saat ini sudah 19 tahun Acicis bekerja sama dengan UMM.

Salah satu mahasiwa ACICIS Rianna Tatarelli berencana mengadakan penelitian tentang pusat pembelanjaan atau shopping mall yang berdampak terhadap pasar kecil di daerah. Menurutnya hal itu merugikan pasar-pasar kecil, dan para pekerja di pasar kecil mulai mencari penghasilan yang lebih besar dengan bekerja di Shoping mall dari pada di pasar yang kecil. Mahasiswa asal Australian National University (ANU) ini berencana meneliti di Malang.

Ketua program ACICIS, Widya Yutanti, MA menerangkan Acicis UMM memiliki beberapa program. Selain penelitian, mahasiswa harus mengikuti kuliah metode penelitian serta orientasi budaya Indonesia. Mereka diharapkan bisa berbaur dengan mahasiswa dan dosen UMM, serta masyarakat.  

Widya menekankan agar mahasiswa Acicis sedapat mungkin menerapkan bahasa Indonesia. Hal ini agar memudahkan proses pendekatan dengan masyarakat ketika penelitian annti. “Kami mengharuskan mahasiswa selalu berbahasa Indonesia di kelas juga di lingkup UMM, agar ada kemudahan dalam melakukan penelitian,” terangnya. Selain itu, juga penting untuk memperkenalkan budaya Indonesia di mata dunia.

Pembantu Dekan I FISIP, Asep Nurjaman, menambahkan bahwa Acicis dengan FISIP sudah sangat menyatu dan tidak bisa dipisahkan. Hal ini merupakan kebanggaan FISIP UMM. Dia berharap dalam praktek dan pelaksanan tetap dalam ruang lingkup FISIP, karena secara historis FISIP telah lama berkecimpung dengan Acicis.

Pembantu Rektor I, Prof. Dr. Ir. Sujono, yang ikut menyambut mahasiswa Acicis berharap para mahasiswa ini bisa menyesuaikan diri dengan budaya yang ada di Malang.

Asisten Rektor bidang Kerjasama, Suparto, menerangkan saat ini UMM memiliki kerjasama dengan 91 institusi di luar negeri dari 30 negara. Acicis merupakan salah satu program unggulan karena hanya dimiliki oleh beberapa kampus saja, yakni UMM dan UGM. Program lainnya adalah Erasmus Mundus yang menghubungkan UMM dengan kampus-kampus di Eropa. Program ini juga sangat langka di Indonesia karena hanya kampus-kampus besar saja yang terlibat.(www.umm.ac.id)

Shared:
Shared:
1