DPP IMM: Buya Safi’i Bukan Sosok Intelektual yang Gila Kehormatan dan Pujian

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Jum'at, 11 November 2016 19:44 WIB

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Menyikapi pro kontra dalam kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Bidang Kader IMMawan Amirullah menghimbau agar masyarakat khususnya umat Islam agar bisa berlaku arif dalam menyikapi perbedaan pendapat.

Salah satunya yaitu pandangan yang diberikan oleh Buya Syafii Maarif yang merupakan Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.  Menurut Amir, jangan karena ada perbedaan perspektif itu menjadi alasan saling caci maki, memfitnah, berpecah belah, apalagi seolah-olah dunia kiamat hancur berantakan karena pandangan Buya yang tak memenuhi dahaga publik.

“Tetaplah berlaku arif dan mengedepankan akhlak Islamiyah,” ucap Amir, Jumat (11/11).

Lanjut Amir, adalah sosok yang selalu tampil menjadi payung untuk semua. Tulus memikirkan masa depan bangsa tanpa embel-embel apapun, apalagi embel-embel politik. Menurut Amir, Buya Syafii bukanlah sosok intelektual yang gila kehormatan atau gila pujian.

“Buya tidak peduli itu semua, bahkan dirinya tak pernah takut untuk menyampaikan pandangan-pandangan kritikalnya meskipun pistol ditaruh di kepalanya. Jangan lupa, Buya juga mengkritik keras Presiden Jokowi, mengkritik juga Ahok yang kasar mulutnya, mengkritik Amerika dan konco-konconya yang memiskinkan Indonesia, dan juga mengkiritk menguatnya dominasi China di Indonesia,” jelas Amir.

Buya Syafii menurut pandangan Amir juga sangat apresiatif terhadap aksi umat Islam 4 November yang lalu. “Buya juga sudah menyampaikan bahwa dirinya mendukung proses hukum Ahok, jika Ahok bersalah maka harus dihukum, dan jika tidak, maka kita mengikuti hukum yang berlaku. Buya sudah menegaskan itu. Jadi, marilah kita berlaku arif pada Buya,” tambahnya.

Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarifhidayatullah Jakarta ini kembali menegaskan, Buya bukan sosok yang gila kehormatan, sosok yang pandai pencitraan untuk mendapat pujian, apalagi bisa dibayar, Buya akan tetap menjadi Buya yang sederhana dan apa adanya

“Jadi, marilah kita berlaku arif dan tidak menfitnah dan mencaci Buya, jangan mau dipecah belah, kita tetap mengutamakan Akhlak dan mengedepankan cara-cara dialogis-saling pengertian,” tegas Amir. (adam)

Shared:
Shared:
1