Haedar Nashir : Satu Kata dapat Mengubah Keadaaan, Maka Islam Mengajarkan untuk Menjaga Kata

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 08 November 2016 08:24 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALUKU- Saat ini masyarakat tengah menghadapi kehidupan yang luar biasa banyak mengalami perubahan. Pertama, gaya hidup pandangan hidup dan cara hidup, apalagi generasi yang sudah mulai tua sekarang ini memiliki tantangan baru dengan adanya media sosial.

Disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, ketika memberikan tausyiah dan silaturahim dengan warga Muhammadiyah Maluku, ia mengatakan media sosial dapat mempengaruhi relasi dan pola pikir anak-anak muda jaman sekarang. Sehingga para pendidik guru dan orangtua saat ini perannya tidak lagi tunggal.

“Saya mengistilahkan mereka menjadi hibernasi Android, yang mungkin belajarnya jauh melampaui dari yang kita ajarkan. Banyak hal baik namun juga hal buruk yang diberikan media sosial, disinilah tantangan pendidikan sekarang,” jelas Haedar, Senin (7/11) bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah PWM Maluku.

“Satu kata bisa mengubah keadaan, maka Islam mengajarkan jagalah kata,” tegasnya.

Kembali ditambahkan Haedar, bangsa Indonesia saat ini sudah mulai kalah bersaing dengan bangsa lain, Indonesia masih di peringkat 37, sedangkan Malaysia berada di peringkat 18, Thailand 32, dan Singapore diperingkat 2.

Haedar mengatakan, Muhammadiyah saat ini telah membukakan arus baru untuk menanamkan spirit daya saing bangsa. “Harus ada jiwa perubahan, anak-anak di sekolah Muhammadiyah harus ditanamkan jiwa maju dan mau berubah,” pungkasnya.

Pimpinan di manapun mereka berada, harus punya kesadaran atas tanggung jawab dan peran perubahan-perubahan. Selain kinerja,  juga karakter yang positif, akhlak mulia, hal itu akan membawa kemajua.

“Karena orang yang akhlaknya mulia, energinya positif, ia akan melihat dunia itu positif, pendidikan bertugas membangun hal itu,” ujar Haedar.

Haedar juga menegaskan pentingnya penguasaan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). “Negara manapun maju karna IPTEK, harus punya tradisi membaca, sayangnya tradisi membaca Indonesia kurang bagus, tapi tradisi ngobrolnya bagus,” tegasnya.(adam/syifa)

 

Shared:
Shared:
1