Haedar Nashir : Islam Tidak Mengajarkan untuk Diskriminatif

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 07 November 2016 21:15 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALUKU- Muhammadiyah sebagai organisasi Islam memiliki prinsip untuk menjadikan semua orang dapat merasakan rahmat kebajikan Islam tanpa pandang bulu dan diskriminatif. Bukti nyata yang telah ditunjukkan Muhammadiyah yaitu dengan dibangunnya empat universitas Muhammadiyah di Papua.

Sebagaimana diketahui, muslim di Papua minoritas, namun Muhammadiyah melalui lembaga pendidikannya telah membangun keberagaman, mayoritas mahasiswa universitas Muhammadiyah di Papua merupakan non muslim, dan tidak menjadi kendala bagi Muhammadiyah untuk menyelenggarakan dakwah seperti itu.

“Islam yang membangun peradaban hidup tidak mengenal diskriminatif. Bahkan bila bertemu dengan duta besar luar negeri, Muhammaiyah tidak banyak bicara tentang kemajemukan atau pluralisme, kita tunjukkan saja degan sikap,” pungkas Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Senin (7/11) dalam acara silaturahim dan pengajian bersama warga Muhammadiyah Maluku.

Kembali dijelaskan Haedar, saat ini masyarakat tengah berada dalam kehidupan yang luar biasa banyak perubahan. Pertama, gaya hidup, pandangan hidup, dan cara hidup. Apalagi generasi saat ini memiliki tantangan baru dengan adanya media sosial.

Kembali dijelaskan Haedar, saat ini hidup masyarakat cenderung egois, banyak hal yang membuat orang menjadi jadi egois. “Negara dan politik juga sama, kebersamaan jadi hilang, padahal hidup bisa jadi damai, karena ada spirit kebersamaan. Tapi dengan egoisme bisa terkoyak,” jelas.

Haedar mengatakan, kehidupan politik, dan budaya politik sekarang ini serba liberal, saat ini mulai muncul demokrasi transaksional, para calon pemimpin harus punya modal untuk maju. “Kehidupan ekonomi semakin kapitalistik, dan kemudian agama semakin ditantang, karena masyarakat dituntut untuk mengikuti ajaran agamanya masing-masing,” ujar Haedar.

Padahal kata Haedar, Nabi telah mengajarkan tentang kebersamaan, karena melalui kebersamaan itu membuat Islam menyatu. “Kuncinya, setiap orang harus berani meluruhkan egonya demi kebaikan jamaah, umat bangsa dan negara. Meluruhkan ego kuncinya ikhlas, mampu diuji ketika ada masalah, bukan ikhlas dikala ada rezeki,” tegas Haedar.

Dalam acara tersebut, turut hadir Marpuji Ali, Bendahara PP Muhammadiyah, Suyatno, Ketua PP Muhammadiyah, dan jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku. (adam/syifa)

 

Shared:
Shared:
1