PCI Muhammadiyah Jerman Raya Selenggarakan PENNA

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Selasa, 01 November 2016 08:59 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BERLIN- Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman Fauzi Bowo, menyampaikan pandangan-pandangannya seputar perkembangan hubungan bilateral antara Indonesia dan Jerman secara live dalam sebuah program milik PCI Muhammadiyah Jerman Raya yaitu Pengajian Online Online Uni-Eropa (PENNA) pada Minggu (30/10). Pengajian streaming tersebut diakses melalui dua radio berskala internasional, yaitu www.radioppidunia.org dan www.radiomu.web.id.

Dalam kesempatan tersebut, Fauzi Bowo  menyampaikan bahwa perkembangan secara garis besar hubungan antara Indonesia dengan Jerman yang telah dibangun sejak 1952 hingga saat ini semakin positif.

“Meskipun hubungannya bersifat up and down, trendnya semakin ke sini semakin positif dan mengarah pada peningkatan yang luar biasa,” pungkas Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo.

Sebagai contoh, Foke yang juga lulusan doktor Jerman ini mengatakan bahwa baru-baru ini dirinya telah bertemu dengan pemerintah Jerman. Dalam pertemuan itu, pemerintah Jerman mengakui bahwa Indonesia adalah bagian terpenting dari mitra kerjasama Jerman. Maka dari itulah, presiden-presiden Indonesia sejak Soekarno hingga Jokowi selalu pernah mengadakan kunjungan ke Jerman.

“Keberadaan Jerman dan Indonesia sebagai anggota G-20 ( The Group of Twenty) menunjukkan bahwa kedua negara ini memiliki hubungan bilateral yang cukup baik dari waktu ke waktu,” jelas Foke.

Kembali dilanjutkan Foke, di bidang pendidikan, sepertiga dari 18 ribu-an warga Indonesia yang ada di Jerman adalah para pelajar. Mereka tersebar di berbagai kota di Jerman. “Lebih dari lima ribu-an orang adalah para pelajar baik yang ada di sekolah maupun di perguruan tinggi,” terangnya.

Menurut Foke, ini adalah potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia, karena untuk sekolah di Jerman bukanlah hal yang mudah terutama soal bahasa. Maka dari itulah, Presiden Jokowi pada Bulan April 2016 kemarin melakukan kunjungan ke Berlin dan bertemu langsung dengan kanselir serta presiden Jerman guna menjalin kerjasama, yang salah satunya di bidang pendidikan vokasi, salah satu prioritas program era Jokowi-JK.

“Hal yang penting juga adalah, saya sudah minta ke atase pendidikan saya untuk mencatat para ilmuwan Jerman yang pernah menulis tentang Indonesia sebagai disertasi mereka. Orang-orang ini akan kita berikan penghargaan khusus,” pungkas Foke.

Di bidang budaya pun, Jerman sangat mengagumi Indonesia sebagai negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim, tetapi bisa bersanding dengan demokrasi. Budaya Indonesia yang beragam pun menjadikan daya tarik tersendiri bagi orang Jerman, bahwa saat ini jumlah orang Jerman yang bisa berbahasa Indonesia pun terus bertambah meski tidak begitu banyak.

“Jerman mengakui bahwa Indonesia adalah model negara Muslim yang demokratis yang ini belum cukup berhasil di negara-negara Timur Tengah,” lanjut mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Acara yang dipandu oleh Ahmad Muktaf Haifani di kantor KBRI Berlin ini berlangsung selama kurang lebih dua jam. Dalam kesempatan ini pula, Dubes RI mengutarakan kemajuan-kemajuan kerjasama yang telah dilakukan antara Jerman dan Indonesia.

 “Meskipun turis Jerman yang ke Indonesia tidak sebanyak negara-negara lain, tetapi ketika sekali kunjungan, waktu mereka menetap di Indonesia tergolong cukup lama, setidaknya 2 minggu-an lebih,” tutup Foke. (QNs)

Redaktur: Adam

Berita Internasional

Shared:
Shared:
1