Buka Rakornas LP3M, Haedar: Lulusan Pesantren Muhammadiyah Harus Menjadi Aktor Peradaban

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 30 Oktober 2016 03:40 WIB

MAKASSAR, MUHAMMADIYAH.OR.ID -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir membuka secara resmi Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) PPM yang dilaksanakan di Balai Sidang Muktamar 47 Unismuh Makassar, Jumat (28/10) malam.

Dalam sambutannya, Haedar menyampaikan bahwa melalui pesantren memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Bukan hanya itu, pesantren menjadi potret perkembangan Islam di nusantara dan tempat pengkaderan ulama.

"Kehadiran pesantren adalah potret penyebaran Islam serta menjadi sejarah pengkaderan ulama di Nusantara," ujarnya.

Sejalan dengan perkembangan zaman, lanjut Haedar, PP Muhammadiyah berkomitmen dengan LP3M, pondok pesantren juga perlu mengikuti perkembangan inteletualitas. Namun tetap pada karakter pesantren yang mengedepankan keimanan.

Sesuai yang diterapkan KH Ahmad Dahlan, karakter pesantren Muhammadiyah adalah berkemajuan dan menembus batas. Di mana mengubah sistem pesantren yang identik dengan mondok atau boarding school menjadi sekolah SMP dan SMA, yakni Mu’allimin dan Mu’allimat, yang mengajarkan ilmu Islam namun tidak menerapkan sistem mondok atau asrama.

"Dalam merumuskan kurikulum nanti, bisa menerapkan esensi pendidikan Islam modern. Bukan kembali pada masa lalu, melainkan menjadi tempat pengkaderan ulama. Tujuannya adalah lulusan pesantren Muhammadiyah memelihara nilai Islam klasik dan kontemporer yang melahirkan aktor peradaban modern," tuturnya.

Ia berharap, diskusi dan pembahasan kurikulum lebih diarahkan pada pendidikan Islam berkemajuan. Pendidikan Islam yang dahulu hanya boleh menjadi referensi, bukan mengembalikan dengan sistem pendidikan yang lalu. Inilah bentuk modernisasi yang perlu dilakukan dalam sistem pendidikan Islam modern dan menjadi tokoh peradaban yang memberi corak di tengah masyarakat.

"Lulusan pesantren Muhammadiyah harus menjadi aktor peradaban di beberapa tahun ke depan. Dalam Muhammadiyah, kita sebut dengan berkemajuan," tuturnya.

Untuk diketahui, Muhammadiyah setelah mendirikan pondok pesantren di Indonesia selama 107 tahun, pembahasan tentang perkembangan pesantren Muhammadiyah baru di bahas pertama kali di Makassar pada tahun 2016. (dzar)

 

 

Kontributor: Kasri Riswadi

Redaktur: Dzar Al Banna

 

 

BERITA NASIONAL

Shared:
Shared:
1