UMY Kembali Gelar Mahathir Global Peace School

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Kamis, 27 Oktober 2016 14:52 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL -- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Perdana Global Peace Foundation (PGPF) Malaysia, kembali akan menyelenggarakan Mahathir Global Peace School (MGPS). Pada MGPS kelima yang akan diselenggarakan pada 25 November hingga 5 Desember 2015 kali ini, akan berbeda dengan MGPS sebelumnya. Jika pada MGPS sebelumnya hanya melibatkan mahasiswa atau peneliti, maka pada MGPS kelima ini partisipan yang dilibatkan akan lebih beragam karena berasal dari berbagai unsur kalangan, seperti institusi, pemerintahan, mahasiswa dan dosen, aktivis, jurnalis, peneliti, maupun NGO-NGO yang bergerak dan concern di bidang perdamaian dan resolusi konflik.

Sri Atmaja P. Rosyidi, penanggungjawab MGPS menjelaskan MGPS kali ini memang melibatkan lebih banyak unsur partisipan. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah agar masyarakat umum mengetahui isu perdamaian dunia. "Awalnya MGPS ini memang dibuat sebagai sekolah singkat (short course) yang bertujuan untuk mengkaji kajian perdamaian. Karena itu target awal pesertanya adalah mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jurusan, mahasiswa pascasarjana atau peneliti," jelas Sri Atmaja.

Sri juga menyampaikan bahwa MGPS kelima ini memang dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. "Kami akan melibatkan banyak institusi, baik swasta maupun pemerintahan yang punya concern terhadap perdamaian, resolusi konflik dan dialog antar agama. Tujuannya tidak lain agar kami bisa saling berkolaborasi untuk menyatukan pemikiran tentang perdamaian ini. Selain itu, kami harapkan pula institusi-institusi tersebut ketika mencetak produknya, bisa bersinergi mencetak generasi-generasi yang lebih baik. Generasi yang memahami Global Peace secara nyata dan bisa menghadapi masalah heterogenitas yang ada pada bangsa ini," ujarnya.

Meski menurutnya, hasil dari kegiatan seperti MGPS tersebut tidak bisa dipanen dalam waktu sekarang, tapi setidaknya pihaknya bisa ikut menciptakan sebuah generasi masa akan datang. "Generasi yang memahami bahwa peace atau perdamaian itu mungkin untuk diwujudkan. Generasi yang memahami bahwa perang bukan resolusi konflik yang utama. Meskipun hidup di negara yang tingkat heterogenitasnya tinggi, kita bisa mengembangkan budaya untuk bertoleransi, menjaga perdamaian misalnya. Konflik sangat mungkin terjadi dan bahkan tidak bisa dicegah. Tapi yang terpenting kita tahu membuat resolusi konfliknya,”ujarnya

Selain itu, MGPS kelima ini juga mengusung tema "Peace and Inter-religious Dialogue in Worldwide Education", yakni menjadikan perdamaian dan dialog antar-agama menjadi satu kesatuan dalam pendidikan formal maupun informal. Tema tersebut diusung juga agar MGPS mempunyai concern yang kuat dalam perdamaian dan dialog antar agama atau toleransi. “MGPS mempunyai seri yang berbeda-beda setiap tahunnya. Untuk MGPS tahun ini akan ada beberapa hal yang dibahas. Pertama, berbicara tentang perdamaian secara umum, kemudian ada resolusi konflik. Yang kedua, kami berbicara tentang migrasi, satu isu yang cukup penting di dunia. Seperti yang terjadi di Suriah, penduduknya melakukan migrasi besar-besaran ke Eropa karena perang. Kemudian kami juga akan menekankan tentang dialog antar-agama /interfaith dialogue, dan yang terakhir kami akan bicara tentang etika,” tambahnya.

Dalam penutupnya, Sri berharap nantinya pemikiran-pemikiran hasil dari MGPS ini dapat dibukukan dan menjadi kurikulum untuk dapat digunakan masyarakat umum. “Kami harap muncul pemikiran-pemikiran yang bisa kami monumenkan dalam bentuk buku. Buku ini bisa dibawa oleh alumni, peneliti dan institusi. Selanjutnya kita akan kampanyekan buku ini untuk dikembangkan juga menjadi kurikulum mengenai peace atau perdamaian dan resolusi konflik sehingga masyarakat luas dan dunia bisa mengambil manfaatnya,”ungkap Sri. (BHP UMY/mona)
Shared:
Shared:
1