Hajriyanto : Muhammadiyah itu Gerakan Filantropi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 24 Oktober 2016 15:56 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG- Ahad (23/10) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar konsolidasi organisasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) beserta ortom se-Malang Raya dan Blitar Raya di Teater Dome, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga dihadiri Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hajriyanto Y. Thohari.

Dalam pemaparannya, Hajriyanto menegaskan berdirinya Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan. "Muhammadiyah adalah gerakan (movement, harakah) bukan sekedar organisasi apalagi yayasan. Kata 'gerakan' disebut secara eksplisit dalam AD Muhammadiyah, bahkan dalam lagu Sang Surya bahwa Al-Islam agamaku, Muhammadiyah gerakanku," tegasnya.

"Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah lebih menampilkan sebagai gerakan amal (a philanthropical movement), bahkan gerakan amal yang par excellence," jelas Mantan Wakil Ketua MPR RI tersebut.

Belakangan, Hajriyanto menilai seiring dengan perubahan lingkungan strategis dalam berbagai bidang kehidupan, apa yang disebut Amal Muhammadiyah (AM) berkembang menjadi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Semua kegiatan atau bentuk AUM apapun, apalagi yang mengandung unsur profit yang menjadi kecenderungan baru dalam perkembangan Muhammadiyah dalam beberapa dasawarsa terakhir, pada sejatinya merupakan perluasan dan improvisasi yang datang belakangan.

"Itu semua tidak otentik Muhammadiyah, tidak original. Jika pendirian sekolah-sekolah unggulan dan rumah-rumah sakit favorit saja tidak otentik Muhammadiyah, apalagi kegiatan politik untuk kekuasaan. Pasalnya, pada sejatinya Muhammadiyah yang otentik adalah gerakan etik dan filantropik. Bukan gerakan AUM yang disengaja untuk memperoleh sisa hasil usaha (SHU)," pungkas Hajriyanto.

Tentu, Hajriyanto menegaskan, dengan mengatakan tidak otentik bukan berarti hal-hal tersebut dilarang atau tidak diperbolehkan. Boleh saja Muhammadiyah terjun dalam bentuk pengembangan AUM, atau sekalian saja bisnis sekalipun, yang dimaksud untuk mengejar profit mengingat perkembangan dan dinamika kehidupan yang nyatanya telah berkembang sedemikian rupa, sehingga perjuangan mewujudkan visi-misi Muhammadiyah memerlukan  sumber daya ekonomi yang kuat dan besar.

Kembali dilanjutkan Hajriyanto, jati diri gerakan Muhammadiyah yang paling otentik dan orisinal sangat tidak cocok untuk dibawa ke medan politik Indonesia yang semakin pragmatis, oligarkis, dan plutokratis seperti sekarang ini. Terbukti Muhammadiyah dan orang Muhammadiyah yang cenderung puritanistik itu seringkali kedodoran dan mandek mangu dalam lapangan yang kasar ini, dan dengan roh volunterisme dan filantropisme ini pula Muhammadiyah juga akan kesulitan untuk terjun dalam bisnis yang semakin cenderung kapitalistik.

"Maka jauh lebih mulia bagi Muhammadiyah untuk tetap tabah, kukuh, dan setia dengan kerja-kerja mekanusiaan yang ikhlas yang mungkin sunyi sepi ini, kerja-kerja yang jauh dari kekayaan dan ketenaran pencitraan dunia glamour yang sarat dengan tepuk tangan kekaguman yang hingar bingar itu," lanjut Hajriyanto. (adam)

Kontributor: Ubay

Shared:
Shared:
1