Uji Kompetensi Kalibrasi Pengaruhi Kualitas Lulusan Elektromedik

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Senin, 24 Oktober 2016 10:11 WIB

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL- Program Studi (Prodi) Teknik Elektromedik dalam meluluskan mahasiswanya tidak cukup bermodalkan ijazah. Akan tetapi mahasiswa dari prodi ini dituntut untuk memiliki sertifikasi kompetensi yang hasilnya sangat berguna ketika terjun di dunia kerja. Seperti halnya yang disampaikan oleh Direktur Vokasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sukamta, bahwa lulusan para mahasiswa elektromedik yang berkualitas jika mampu melalui uji kompetensi, salah satu yang paling utama yaitu uji kalibrasi dalam mendapatkan sertifikasi kompetensi.

Sukamta dalam penyampaiannya pada seminar alat kesehatan bertemakan “Uji Kesesuaian dan Teknik Instrumentasi Pesawat Sinar X Diagnostik Mobile,” Sukamta menyampaikan bahwa peranan kalibrasi pada kegiatan industri dan penelitian merupakan salah satu tolak ukur jaminan mutu suatu produk maupun penelitian. Sehingga semua alat ukur atau disebut instrumentasi harus dilakukan kolaborasi sebagai persyaratan standar atau spesifikasi teknis yang berlaku.

“Perlu disampaikan bahwa seminar yang mengundang dua pakar terkait pakar uji kalibrasi atau uji kesesuaian ini sangat penting. Hal ini karena uji Kalibrasi dituntut harsu sesuai dengan sistem manajemen kualitas. Sesuai standar Internasional bernama ISO 9001:2015 di pasal 715 ini menuntut adanya kalibrasi sebuah alat,” pungkas Sukamta, Sabtu (22/10) di Gedung AR Fachruddin B UMY lantai 5.

Alat tersebut akan menemukan hasil diagnosa, dan hasilnya dipakai analisis diagnosa para dokter. Dilihat dari pentingnya uji kompetensi kalibrasi ini, kualitas lulusan elektromedik juga dipengaruhi dari keberhasilan melalui uji kalibrasi.

Seminar yang dihadiri oleh 200 peserta dari 4 universitas di Indonesia diantaranya UMY selaku tuan rumah, Akademi Teknik Elektromedik Andakara Jakarta, STIKES Widya Husada Semarang, serta Akademi Teknik Elektromedik Semarang, Sukamta menyebutkan bahwa terdapat berbagai alat kesehatan yang perlu melalui uji kalibrasi.

“Alat-alat kesehatan seperti CT Scan, rontgen, pengobatan kanker yang banyak menggunakan sinar X ini jika tidak di kalibrasi maka hasilnya belum tentu benar.  Dalam hal ini kalibrasi sebagai uji fungsi alat tersebut belum berfungsi jika belum bisa diuji oleh kalibrasi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menguasai dengan benar terkait instrumentasi penggunaan alat, dan dari sisi kalibrasi. Ini akan menjadi bekal jika anda lulus dari prodi elektromedik,” ujarnya.

Sementara itu seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa jurusan teknik elektromedik (HIMATEM) tersebut, Adi Surya selaku ketua HIMATEM mengatakan bahwa tujuan diadakan seminar tersebut mahasiswa elektromedik mampu menjawab tantangan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) untuk membuat alat kesehatan yang berkualitas dan sesuai standar Internasional. Adi juga menyebutkan bahwa dalam seminar tersebut membahas terkait manfaat dan bahaya sinar X yang belum diketahui oleh banyak orang.

“Kami ingin dalam MEA ini mahasiswa elektromedik dan radiografer mampu menjawab tantangan, karena alat kesehatan harus berstandar Internasional. Disamping itu juga, bagi kalangan umum yang masih awam terkait elektromedik tersebut perlu diketahui bahaya pengobatan. Dalam pengobatan itu bahayanya bukan hanya dari obat saja namun juga dari sinar X. Akan tetapi bermanfaat jika sesuai dengan standar, seperti terapi leukemia, kanker otak maupun kanker payudara ini mampu diobati dengan cobalt 60 dari sinar X tanpa efek samping,” jelasnya. (hv/BHP UMY)

Redaktur: Adam

Shared:
Shared:
1