Pemuda Muhammadiyah Gelar Sekolah Cinta Perdamaian

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 23 Oktober 2016 13:44 WIB

KUNINGAN, MUHAMMADIYAH.OR.ID – Diikuti 30 peserta, Sekolah Cinta Perdamaian (SETAMAN) yang diprakarsai oleh Pemuda Muhammadiyah bekerjasama dengan Fahmina Institute mengangkat tema "Cinta Dalam Beda" di SMK 2 Muhammadiyah Kuningan, Jumat-Ahad, (21-23/10).

Sekretaris PDM Kabupaten Kuningan, Khoirul Anwar, dalam sambutannya, ia menyatakan merasa bangga dapat hadir di tengah-tengah generasi muda dan apresiasi. "Generasi muda adalah pelanjut generasi masa depan," tuturnya, Jumat (21/10).

Kuningan, menurut Anwar, termasuk wilayah dengan masyarakat majemuk, heterogen. "Keragaman patut disyukuri, karena keragaman sesuatu yang niscaya serta sunnatullah," kata dia. 

Dengan demikian, menentang keragaman sama halnya menolak sunnatullah.  Tapi toleransi bukan dipahami secara membabi buta. "Namun dalam bentuk saling menghargai penganut agama lain," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Hubungan Antar lembaga PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto mengajak seluruh pemuda lintas agama untuk bersatu padu menjadi aktor terdepan pencegahan aksi radikalisme dan terorisme. 

"Adagium 'student today, leader tomorrow' membawa sebuah pemahaman, pemuda sebagai salah satu ujung tombak sekaligus pelopor perdamaian dunia (peace of world)," ujar tokoh muda yang akrab disapa Cak Nanto ini.

Lebih lanjut Cak Nanto, pemuda sejatinya memiliki pengaruh signifikan dalam menciptakan perdamaian dunia. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari besarnya potensi pada diri pemuda. Mereka adalah kelompok yang kaya akan ide kreatif dan inovatif, potensi inilah yang dapat kita tumbuh kembangkan melalui pendidikan interaktif dan diskusi agar peka terhadap isu-isu perdamaian keberagamaan.

"Untuk itu, saya selaku Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kerjasama Antar Lembaga PP Pemuda Muhammadiyah menyambut baik gagasan Fahmina Institute dalam penyelenggaraan kegiatan ini," tutup.

Secara terpisah, aktivis JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) wilayah 3 Cirebon, Sunardi menyatakan prinsip kebhinekaan perlu dimaknai dan dijiwai secara luas oleh segenap anak bangsa. Oleh karenanya, kegiatan Setaman yang menjadikan pelajar dan mahasiswa sebagai peserta sangatlah tepat.

"Perbedaan adalah niscaya, sebagai kondisi bangsa kita. Oleh karenanya, dijadikanlah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Menolak perbedaan dapat mengakibatkan perpecahan dan akhirnya Semboyan pun berubah menjadi Bhinneka Tinggal Luka," salah satu Inisiator Pendirian SETAMAN.

Sementara itu, Direktur Fahmina Institute, Rosidin menyampaikan bahwa acara ini diselenggarakan sebagai upaya antisipasi pemahaman radikal di kalangan muda.

"Dalam beberapa riset, pemuda merupakan kelompok yang potensial untuk terlibat, karena jiwanya masih dalam proses mencari identitas dan eksistensi," ungkapnya. (dzar)

 

 

Redaktur: Dzar Al Banna

Shared:
Shared:
1