Lulusan Universitas Muhammadiyah Riau Harus Hindari Perilaku Korupsi

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Minggu, 23 Oktober 2016 13:33 WIB

PEKANBARU, MUHAMMADIYAH.OR.ID – Saat ini krisis mutli dimensi yang terjadi di Indonesia, termasuk perilaku korupsi, merupakan suatu yang harus disikapi dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pada sang pencipta, hal tersebut dikatakan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau Prof Nazir Karim dihadapan 209 calon wisudawan/ti Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dalam acara Pembekalan calon wisudawan/ti Universitas Muhammadiyah Riau tahun 2016, di Kampus I UMRI, Jalan KH Ahmad Dahlan Pekanbaru, Sabtu (22/10).

Menurut mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini, berbagai cara yang dilakukan pemerintah dalam memerangi praktek korupsi dan terakhir terkait soal pungutan liar (Pungli), merupakan sesuatu yang patut didukung, namun disisi lain juga menghabiskan anggaran yang tidak sedikit.

"Seperti untuk pungli ini, masa pemerintah mengatakan pungli Rp 10 ribu pun akan disikat, inikan sangat tidak logis dan tidak sesuai, karena untuk biaya nya saja cukup besar, masa untuk memberantas pungli Rp 10 ribu anggaran nya melebihi, yakni Rp 30 ribu misalnya," ujar Nazir.

Namun demikian, kata Nazir, kita jelas tidak mendukung praktek-praktek korupsi dan pungli ini. Karena itulah agara perilaku itu bisa dihindari, kuncinya adalah dengan terus mendekatkan diri, dengan terus meningkatkan keiman dan ketaqwaan kepada Allah swt.

"Kunci mengindari perilaku korupsi dan pungli itu adalah bagaimana kita sebagai hamba Allah, bisa terus mendekatkan diri kepada Allah, sehingga kita bisa merasakan kalau Allah itu selalu mengawasi kita, dan pada akhirnya kita akan takut untuk berbuat perilaku-perilaku yang salah, seperti korupsi dan pungli tersebut," katanya.

Karena itulah, hal itu diharapkan Nazir lahir dan tertanam dalam diri para Mahasiswa dan alumni UMRI, minimal ada Empat keunggulan yang harus dimiliki lulusan. Pertama adalah keagungan spiritual. Setiap sarjana, apalagi yang belajar di UMRI, setidaknya aqidahnya kokoh.

"Ibadahnya juga harus mantap. Sehingga tidak ada yang melakukan pungutan liar, memakai narkoba dan sebagainya," kata Dia.

Kedua adalah keunggulan emosional, artinya, memiliki akhlak yang mulia dan berguna bagi bangsa negara. Sementara ketiga adalah ketinggian intelektual. Baik ilmu maupun wawasan. Hal ini didapat dari berbagai pelajaran yang didapat selama kuliah di Umri. Selanjutnya adalah memiliki keterampilan.

Kemudian, harus memiliki etos kerja. Kalau bisa, alumni Umri yang justru menciptakan lapangan kerja. Alumni harus peka dengan masyarakat di sekitarnya. Terakhir, harus mampu menjaga kebugaran pikiran dan fisik.

"Alumni harus mampu menciptakan lapangan kerja, bukan hanya dan terus bergantung pada orang lain untuk bekerja, dan itu harus adik-adik teguh dan bulatkan tekad, kalau kalian bisa," ungkapnya. (dzar)

 

 

Redaktur: Dzar Al Banna

Shared:
Shared:
1